“Kawah yang Tak Pernah Jadi”, Namun Justru Memukau
Bondowoso, Mediator
Di balik namanya yang berarti “kawah yang urung terbentuk”, Kawah Wurung justru menjadi salah satu lanskap paling memesona di Ijen Geopark. Berlokasi di Desa Kalianyar, Kecamatan Sempol, Bondowoso, destinasi ini memadukan keunikan geologi purba dengan panorama savana luas yang membentang di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut.
Bukannya kawah menganga seperti di Ijen, pengunjung justru disambut cekungan raksasa berumput hijau yang membentuk lingkaran sempurna bak cincin alam—menjadikan kawasan ini kerap dijuluki Bukit Cincin.
Sebagai bagian dari Ijen Geopark yang telah resmi bergabung dengan UNESCO Global Geopark (UGG), Kawah Wurung mewarisi sejarah geologi yang panjang. Kawasan Ijen diketahui merupakan kaldera vulkanik terluas di Pulau Jawa, hasil ledakan super eksplosif lebih dari 70.000 tahun silam.
Warisan purba itu melahirkan 22 anak gunung dan deretan morfologi intrakaldera yang unik, termasuk Kawah Wurung yang tidak membentuk lubang kepundan, tetapi menyajikan padang rumput luas dengan kontur berbukit halus.
Panorama 360 derajat dari puncaknya menghadirkan perpaduan sabana hijau, garis cakrawala biru, hingga pemandangan Gunung Raung yang berdiri anggun di kejauhan.
Untuk mencapai puncak pandang, pengunjung menapaki undakan beton setinggi 196 anak tangga—setiap anak tangga diberi nomor agar pendaki tak perlu menghitung ulang jejak mereka. Meski trek menanjak 100 meter ini sering disebut “tanjakan cinta”, pendakian relatif bersahabat bagi semua umur.
Dari atas, hamparan sabana yang berubah warna mengikuti musim seakan menjadi daya tarik tak habis—hijau di musim hujan, keemasan di musim kemarau, bahkan sesekali memerah muda. Kawasan ini juga dikelilingi tumbuhan bandotan atau wedusan, menciptakan ilusi permadani ungu yang menyelimuti lereng-lerengnya.
Sebagai destinasi geowisata, Kawah Wurung tidak hanya menawarkan keindahan, tetapi juga nilai edukasi dan konservasi yang terus dikembangkan Perum Perhutani Bondowoso. Harga tiket masuk pun sangat terjangkau, Rp 3.000 per pengunjung. Dari pusat Kabupaten Bondowoso, jaraknya sekitar 54,8 kilometer atau 1 jam 40 menit perjalanan melalui jalur Kawah Ijen.
Banyak wisatawan memilih datang menggunakan sepeda motor maupun kendaraan pribadi, mengingat kawasan ini juga berada hanya 9–10 kilometer dari Kawah Ijen yang saat ini masih ditutup karena berstatus waspada.
Meski bukan kawah sesungguhnya, Kawah Wurung membuktikan bahwa alam tidak harus meletupkan magma untuk menampilkan keindahan.
Dengan lanskap yang menenangkan, udara sejuk pegunungan, serta sejarah geologi purba yang bisa disaksikan langsung dari permukaan tanah, kawasan ini menjelma menjadi salah satu destinasi paling ikonik di lereng Ijen. Sering kali, keindahan justru muncul dari sesuatu yang “urung terbentuk”—dan Kawah Wurung adalah buktinya.(ayu)
