Ekonomi Jambi Meningkat Stabil pada 2025, Namun Ketergantungan pada Sektor Primer Jadi Pekerjaan Rumah Besar
Jambi, Mediator
Perekonomian Provinsi Jambi terus menunjukkan geliat positif sepanjang tahun 2025. Dalam rilis resmi yang disampaikan awal minggu bulan November lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) pada triwulan III-2025 mencapai Rp89,35 triliun. Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan 2010 (ADHK) berada di angka Rp47,35 triliun, mencerminkan capaian ekonomi riil yang tetap terjaga.
Kepala BPS Provinsi Jambi, Agus Sudibyo, menjelaskan bahwa ekonomi daerah tumbuh 2,17 persen secara quarter to quarter (q-to-q) dibanding triwulan sebelumnya. Pertumbuhan paling tinggi datang dari sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum yang melesat 5,87 persen. Lonjakan ini menunjukkan meningkatnya mobilitas masyarakat, perbaikan aktivitas pariwisata, serta geliat usaha kuliner dan perhotelan di berbagai wilayah Jambi.
Di sisi lain, dari perspektif pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 7,25 persen. Belanja pemerintah di level provinsi maupun kabupaten/kota dinilai tetap menjadi penopang utama dinamika ekonomi daerah, terutama dalam menjaga aktivitas sektor-sektor yang bergantung pada stimulus anggaran.
Secara tahunan (year on year/y-on-y), ekonomi Jambi tumbuh 4,77 persen. Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi menjadi sektor dengan laju pertumbuhan tertinggi, mencapai 9,00 persen. Pertumbuhan pesat ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas digital masyarakat, ekspansi jaringan internet, serta bertambahnya pelaku usaha yang bergeser ke platform daring.
Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa mencatat kenaikan signifikan sebesar 7,24 persen. Peningkatan permintaan global terhadap komoditas unggulan seperti batu bara, kelapa sawit, dan karet, turut menopang angka tersebut meski kondisi ekonomi dunia masih berfluktuasi.
Jika dilihat secara kumulatif dari awal tahun hingga triwulan III-2025 (c-to-c), pertumbuhan ekonomi Jambi mencapai 4,78 persen. Sektor Transportasi dan Pergudangan menjadi motor pertumbuhan dengan capaian 9,82 persen, mencerminkan meningkatnya aktivitas logistik, distribusi komoditas, dan mobilitas barang lintas daerah. Ekspor barang dan jasa kembali menjadi penopang kuat dengan pertumbuhan 5,12 persen.
Meskipun tren pertumbuhan cukup menggembirakan, struktur ekonomi Jambi masih menunjukkan ketergantungan besar pada sektor primer. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menyumbang 34,93 persen terhadap total PDRB triwulan III-2025. Dominasi sektor ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi daerah masih bertumpu pada komoditas mentah yang rentan terhadap fluktuasi harga global dan risiko iklim.
Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa memberikan kontribusi sangat besar—mencapai 67,05 persen dari total PDRB. Situasi ini mengonfirmasi bahwa pergerakan ekonomi Jambi sangat dipengaruhi kondisi eksternal, baik dari pasar global maupun permintaan industri luar daerah.
Agus Sudibyo menegaskan bahwa meski pertumbuhan terlihat stabil, tantangan besar masih menanti. “Ketergantungan ekonomi Jambi masih sangat besar pada sektor pertanian dan ekspor, terutama di tengah dinamika global yang tidak selalu menentu. Perlu percepatan diversifikasi ekonomi dan penguatan nilai tambah agar pertumbuhan semakin berkualitas,” ujarnya.
BPS menilai, upaya diversifikasi ekonomi melalui hilirisasi pertanian, penguatan industri pengolahan, pengembangan ekonomi kreatif, serta pemanfaatan teknologi perlu semakin diprioritaskan. Selain itu, peningkatan konektivitas, infrastruktur logistik, serta ekosistem investasi menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko yang timbul akibat ketergantungan pada komoditas primer.
Secara keseluruhan, kinerja ekonomi Jambi pada triwulan III-2025 memberikan sinyal optimisme, namun juga mengingatkan pentingnya strategi jangka panjang yang lebih kokoh dan berorientasi pada pertumbuhan berkelanjutan. Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan diharapkan memperkuat koordinasi guna memastikan bahwa momentum pertumbuhan ini dapat terus dijaga dan dinikmati secara merata oleh masyarakat. (tsa)
