Polarisasi Kurikulum Pendidikan di Abad 21
Oleh : Nelson Sihaloho
Penulis Guru SMPN 11 Kota Jambi
PD ABKIN Provinsi Jambi Bid. Publikasi Ilmiah 2022-2026 (anggota)
ABSTRAK :
Saat ini perubahan sistem pendidikan bergerak secara non-linier. Sebagaimana dalam perkembangannya gelombang teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) menimbulkan disrupsi. Akibat yang ditimbulkannya adalah merombak proses belajar-mengajar; ketimpangan akses, ideologi serta kualitas.
Bukan itu saja dampaknya adalah memicu polarisasi. Pemerintah, Lembaga maupun pasar merespons dengan agenda transisi yang mulai dari kurikulum berbasis kompetensi hingga micro-credential. Ketiga dinamika ini saling bertaut, didalam menciptakan tantangan sekaligus peluang transformasi di bidang pendidikan. Sebagaimana diketahui bahwa kurikulum berbasis kompetensi abad 21 menekankan kreatifitas, pemikiran kritis, kolaborasi serta literasi teknologi.
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah memberikan dampak serta perubahan yang signifikan dalam memahami kompetensi abad 21. Kurikulum sebagai komponen yang sangat penting dalam sistem Pendidikan memiliki peran penting. Diantaranya sebagai panduan operasional dalam proses pembelajaran.
Selain itu, kurikulum juga berfungsi sebagai instrumen untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, guna memenuhi kebutuhan dari para pihak-pihak yang akan mempekerjakan atau menggunakan lulusan. Kurikulum harus dievaluasi secara inovatif, dinamis, dan berkala seiring perkembangan zaman.
Selain itu kurikulum perlu disusun secara teratur (sistematis), masuk akal (rasional), dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan serta perubahanperubahan di era sekarang maupun menghadapi era mendatang. Dalam konteks berpikir spesifik pengembangan kurikulum menjadi sarana dalam mendukung guru dalam tugas mengajar serta menjawab kebutuhan komunitas mereka. Fakta riil dan realita dilapangan kesenjangan kurikulum Pendidikan terus semakin melebar. Akibatnya semakin memunculkan dikotomi yang berakar pada sejarah panjang polrasisasi kurikulum penddikan dengan orientasi Artificial Inteligence (AI).
Sekolahpun semakin berlomba-lomba untuk menjadikan mereka lebih terdepan dan lebih “hebat” dengan kondisi sekolah “garuda” sekolah regular dan sekolah rakyat. Akibat polarisasi akan menghasilkan kesenjangan kualitas dan fasilitas, stigma dan stereotip serta fragmentasi identitas intelektual. Masalah ini harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah didalam mengatasi agar tidak menuncul kesenjangan mutu Pendidikan yang semakin melebar.
Kata kunci: polarisasi, kurikulum Pendidikan, abad 21.
Kesenjangan Nyata
Kesenjangan nyata mutu pendidikan di tanah air melipti aspek fasilitas, akses teknologi, kualitas guru hingga partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar. Kendati banyak upaya pemerintah untuk meningkatkan pemerataan pendidikan , fakta dilapangan menunjukkan bahwa tantangan ini masih menyisakan sejumlah tantangan maupun masalah. Diantaranya kesenjangan kualitas dan fasilita.
Fajta dan data menunjukkan bahwa alokasi anggaran dan infrastruktur seringkali lebih memihak pada sekolah unggulan, menyebabkan sekolah regular terutama di wilayah terpencil kekurangan fasilitas laboratorium, perpustakaan bahkan sarana teknologi yang jauh dari kata memadai. Kemudian terjadinya stigma dan stereotip. Bahwa siswa lulusan sekolah pinggiran kerap menghadapi stigma bahwa kompetensi keilmuan umum dan keterampilan vokasional mereka dianggap inferior dibandingkan lulusan sekolah unggulan. Stigma ini dapat mempersempit peluang mereka di pasar kerja.
Kemudian adanya fragmentasi identitas intelektual. Pola Pendidikan sekarang ini seperti adanya sistem yang terpisah. Sistem dengan predikat sekolah unggul dan regular dengan sekolah pinggiran menciptakan lulusan yang cenderung timpang.Fakta riil dilapangan juga membuktikan bahwa perubahan sistem pendidikan bukan siklus linier, melainkan proses dialektik antara disrupsi teknologi, polarisasi sosial, dan transisi kebijakan. Keberhasilan ditentukan oleh ketangkasan lembaga beradaptasi dan keadilan akses.
Tanpa visi holistik, transformasi berisiko memperdalam jurang; dengan tata kelola yang inklusif, pendidikan dapat menjadi lokomotif mobilitas sosial di era digital. Mengedepankan inovasi tanpa meninggalkan inklusi adalah kunci agar misi pendidikan sebagai pengungkit kesejahteraan tetap relevan di abad AI. Disatu sisi perkembangan kecerdasan buatan Artificial Inteligence menawarkan peluang besar untuk meningkatkan mutu serta kualitas akademik.
Artificial Inteligencedapat membantu meningkatkan efisiensi proses pembelajaran, personalisasi Pendidikan serta pengelolaan data akademik. Langkah pemerintah yang akan mengintegrasikan akal imitasi (AI) dan coding ke dalam kurikulum nasional mulai tahun ajaran 2025 mencerminkan ambisi besar Indonesia memasuki era digital. Visi ini terlihat baik, yaitu untuk mempersiapkan generasi muda dengan kompetensi digital esensial untuk bersaing di panggung global yang kian terdigitalisasi.
Potret Kesenjangan
Sesuai naskah akademik yang sudah telah disusun dan dibuat, kurikulum AI mencakup pengenalan konsep dasar kecerdasan artifisial, pemahaman etika teknologi, hingga penerapan praktis seperti pemrograman berbasis teks dan aplikasi kecerdasan artifisial dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus realistis, di balik optimisme AI, terbentang jurang kesenjangan digital yang makin lebar dan menganga.
Sebagaimana data Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2024 dari Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan bahwa skor rata-rata nasional 43,34, masih dalam kategori “sedang” untuk kesiapan digital. Yang lebih mengkhawatirkan, dari 38 provinsi, hanya lima yang dikategorikan memiliki kapabilitas digital tinggi yakni Jakarta (50,50), Bali (49,05), Kepulauan Bangka Belitung (47,61), Jawa Tengah (47,42), dan Yogyakarta (47,10).
Wilayah Papua masih terpuruk di posisi kategori “rendah”.Dengan munculnya kurikulum AI akankah mampu menjadi jembatan kesenjangan pendidikan ataukah justru memperdalam jurang digital yang semakin melebar? Untuk menjawab perta nyaan tersebut sudah barang tentu dibutuhkan strategi yang tepat agar tidak menjadi privilese baru yang hanya dinikmati segelintir kalangan. Potret kesenjangan digital Indonesia tidak hanya tercermin dalam infrastruktur, tetapi juga dalam akses dan literasi.
Data menunjukkan bahwa meskipun 79,5 persen populasi Indonesia telah mengakses internet, hanya 30,5 persen pengguna berasal dari wilayah pedesaan. Hal itu menciptakan disparitas akses yang signifikan, terutama mengingat mayoritas sekolah tersebar di pelosok negeri, termasuk daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) yang masih bergulat dengan keterbatasan listrik, apalagi koneksi internet stabil.
Hal itu nyata dan fakta dimana secara global, dipaparkan dalam laporan International Telecommunication Union (ITU) 2024 mencatat bahwa 93 persen individu dari kelompok berpenghasilan tinggi memiliki akses internet, dibandingkan hanya 27 persen dari kelompok berpenghasilan rendah.
Indonesia sendiri berada di peringkat ketujuh dari sepuluh negara di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik dalam Indeks Internet Inklusif, dengan penilaian moderat untuk ketersediaan, keterjangkauan, relevansi, dan kesiapan infrastruktur digital. Dari sisi aspek literasi digital menambah kompleksitas masalah. IMDI menunjukkan bahwa hanya 48,1 persen penduduk memverifikasi informasi sebelum membagikannya, dan 39,2 persen memeriksa kredibilitas sumber digital.
Mayoritas pengguna internet Indonesia (84,5 persen) hanya menggunakan platform untuk pesan instan dan media sosial, mencerminkan literasi digital yang dangkal. Fenomena ini akan menjadi tantangan besar ketika AI, khususnya model generatif yang rentan menghasilkan informasi keliru, diintegrasikan ke dalam pembelajaran.
AI Digandrungi Kawula Muda
Banyak para ahli yang memberikan defenisi serta pengertiannya tentang Artificial Intelligence (AI). Yudoprakoso, (2018) mengatakan faktanya saat ini AI sudah banyak dimanfaatkan dalam segala bidang kehidupan di masyarakat, dengan hadirnya AI pekerjaan dan kehidupan manusia terasa lebih mudah di berbagai bidang AI merupakan kemampuan sistem teknologi untuk menafsirkan berbagai data dari luar dengan benar, sehingga data tersebut dapat digunakan untuk pembelajaran dalam mencapai tugas atau tujuan tertentu (Leszkiewicz, 2022).
Selain itu Artificial Intelligence juga merupakan langkah untuk menciptakan komputer, robot, aplikasi atau program yang bekerja secara cerdas, layaknya seperti manusia (Putri., 2023). Berdasarkan laporan Work Trend Index 2024, porsi pekerja di Indonesia yang sudah menggunakan AI melebihi rata-rata global 75% dan Asia Pasifik 83%.
Sebanyak 92% pekerja kantoran di Indonesia sudah menggunakan kecerdasan buatan atau AI, termasuk Gen Z, Milenial hingga Baby Boomers yang ditandai dengan penggunaan dan adaptasi teknologi dalam kehidupan sehari-hari (Septiani, 2024). Berdasarkan East Ventures (2023) Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial RI (Stranas KA) 2020-2045 membentuk landasan bagi pertumbuhan AI dengan mendorong kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat.
Terbentuknya organisasi Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA) menjadi sarana koordinasi antara sektor publik dan swasta. Selain Korika, adanya Pusat Inovasi AI yang disebut Pusat Inovasi Kecerdasan Artifisial (PIKA) menjadi sebuah tanda bahwa Indonesia yakin AI akan memberikan kontribusi yang signifikan sebesar US$366 miliar bagi perekonomian Indonesia dalam masa mendatang.
Studi dari Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 menemukan jika ada satu generasi yang paling banyak menggunakan AI. Dengan presentase 43,7 persen, generasi apa yang dimaksud? Generasi dengan pengguna AI terbanyak dipegang oleh Generasi Z dengan presentase sebesar 43,7 persen. Jumlah ini disusul denganMilenial sebesar 22,3 persen. Perpustakaan digital sekarang ini semakin digandrungi kawula muda atau generasi Z. Dunia Gen Z tak lepas dari ekspresi visual.
Dari unggahan media sosial yang menawan hingga portofolio digital yang memukau, kualitas visual memegang peran penting. Di sinilah AI menunjukkan jaticdirinya sebagai katalisator kreatifitas. Perangkat lunak pengeditan foto dan video berbasis AI telah merevolusi cara Gen Z berkarya. Dunia pemrograman atau coding sering kali dianggap sebagai ranah yang eksklusif dan rumit. Namun, dengan kehadiran AI, Gen Z kini memiliki “guru” pribadi yang selalu siap membantu mereka.
Platform seperti Blackbox AI dan asisten coding berbasis AI lainnya menjadi teman setia bagi mereka. Generasi Z membuktikan bahwa AI bukan hanya sekadar tren teknologi yang berlalu lalang, melainkan sebuah instrumen revolusioner yang, di tangan yang tepat, dapat membuka pintu menuju inovasi, efisiensi, dan peningkatan kualitas hidup.
Mereka adalah arsitek masa depan yang dengan cerdas merajut benang-benang kecerdasan buatan ke dalam kain kehidupan sehari-hari, menciptakan mosaik yang lebih cerah dan produktif.Simpulan bahwa polarisasi kurikulum Pendidikan akan terus terjadi seiring dengan tuntutan maupun perkembangan zaman.
Bahan sekolah-sekolah berloma untuk terus berupaya lebih unggul dari sekolah lainnya. Di abad 21 guru terus dituntut untuk melakukan inovasi teknologi pembelajaran. Teknologi computer maupun jaringan tercanggihnya akan terus berkembang bahkan diprediksikan beban guru dalam menguasai teknologi akan mengalami polarisasi yang semakin melebar terutama dalam skill maupun kompetensinya. Semoga bermanfaat. (***).
Rujukan
- Ibad, M. L. F. (2023). Gen Z Jadi Pengguna AI Generatif Paling Banyak di Indonesia, Apa Sebabnya? Liputan 6. https://www.liputan6.com/tekno/read/5481406/gen-z-jadipengguna-ai-generatif-paling-banyak-di-indonesia-apa-sebabnya?page=2
- Muhamad, N. (2024, January 31). Indonesia, Penyumbang Kunjungan Aplikasi AI Terbanyak ke3 di Dunia. Databoks. Retrieved July 14, 2024, from https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2024/01/31/indonesia-penyumbangkunjungan-aplikasi-ai-terbanyak-ke-3-di-dunia
- Putri, V. A., Sotyawardani, K. C. A., & Rafael, R. A. (2023). Peran Artificial Intelligence dalam Proses Pembelajaran Mahasiswa di Universitas Negeri Surabaya. Prosiding Seminar Nasional, 2, 615-630.
- Septiani, L. (2024, June 12). 92% Pekerja Gen Z hingga Boomer di Indonesia Sudah Pakai AI– Teknologi Katadata.co.id. Katadata. Retrieved July 14, 2024, from https://katadata.co.id/digital/teknologi/66691cfba09b5/92-pekerja-gen-z-hinggaboomer-di-indonesia-sudah-pakai-ai STEI. (n.d.).
