Musibah Silih Berganti, Indonesia Kembali Diuji Bencana
Jakarta, Mediator
Rentetan musibah kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia sepanjang awal hingga pertengahan September 2026. Bencana alam, erupsi gunung api hingga kecelakaan transportasi laut menimbulkan korban jiwa, kerusakan dan memaksa masyarakat menghadapi situasi darurat.
Di Jawa Timur, aktivitas Gunung Semeru meningkat dalam beberapa hari terakhir. Gunung api di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang itu beberapa kali mengalami erupsi dengan tinggi letusan mencapai sekitar 1.000 meter. Pada Selasa (15/9) dini hari, Semeru kembali erupsi disertai suara gemuruh kuat. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru melaporkan erupsi terjadi sekitar pukul 00.10 WIB.
Musibah juga terjadi di kawasan Gunung Bromo. Kebakaran hutan dan lahan kembali melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan meluas di sejumlah titik. Petugas gabungan dikerahkan untuk melakukan pemadaman, termasuk melalui operasi water bombing. Kondisi angin dan medan terjal menjadi kendala dalam penanganan kebakaran.
Kementerian Kehutanan bahkan membentuk tim khusus untuk mendalami dugaan adanya unsur pidana dalam kebakaran tersebut. Pemerintah menegaskan penanganan tidak hanya diarahkan pada pemadaman api, tetapi juga mengusut penyebab kebakaran apabila ditemukan unsur kesengajaan.
Di perairan Laut Jawa, kecelakaan Kapal Motor Virgo Transport 8 menjadi salah satu musibah terbesar dalam beberapa hari terakhir. Kapal yang membawa 243 orang itu mengalami kecelakaan pada Minggu (13/9). Operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan oleh tim gabungan.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengungkapkan, berdasarkan keterangan korban selamat, kapal dihantam gelombang dengan ketinggian lebih dari tiga meter. Hingga Selasa (15/9), pencarian masih berlangsung, termasuk menggunakan unsur TNI Angkatan Laut untuk melakukan pencarian bawah laut. Bangkai kapal diketahui berada pada kedalaman sekitar 30 meter dan dalam kondisi terbalik.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan kapal tersebut tidak mengalami kelebihan kapasitas. Pemerintah bersama Basarnas dan unsur terkait terus melakukan pencarian serta pendataan korban dan memberikan penanganan kepada keluarga penumpang.
Sementara itu, hujan deras memicu tanah longsor di Kampung Sanehen, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah, Minggu (13/9). Seorang anak berusia sembilan tahun meninggal dunia dan 13 warga mengalami luka-luka. Dua korban kemudian dirujuk ke rumah sakit di Banda Aceh untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
BNPB mengingatkan masyarakat di wilayah rawan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama ketika hujan deras berlangsung dalam waktu lama.
Musibah lainnya terjadi di wilayah Kalimantan dan sejumlah daerah yang menghadapi ancaman kebakaran akibat kondisi kemarau. Pemerintah daerah bersama aparat dan masyarakat terus melakukan pencegahan serta penanganan kebakaran, sementara sejumlah wilayah juga meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem.
Di sisi lain, masyarakat Flores, Nusa Tenggara Timur, masih menghadapi proses pemulihan akibat gempa bumi besar yang mengguncang wilayah tersebut pada Agustus lalu. Hingga September, penanganan dan bantuan bagi warga terdampak masih terus dilakukan. Pemerintah menyalurkan bantuan stimulan dan mempercepat pembangunan kembali hunian serta infrastruktur yang rusak.
Rangkaian musibah tersebut menjadi pengingat bahwa Indonesia berada di wilayah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap berbagai ancaman bencana. Pemerintah tidak hanya dituntut bergerak ketika bencana terjadi, tetapi juga memperkuat mitigasi, kesiapsiagaan dan kesadaran masyarakat.
Ketua Umum PMI Pusat Muhammad Jusuf Kalla menekankan pentingnya penghijauan lingkungan sebagai bagian dari upaya mencegah bencana. Menurutnya, kerusakan lingkungan dapat memperbesar dampak bencana dan mengganggu kehidupan serta perekonomian masyarakat.
“Karena apabila bencana, maka masyarakat tidak bisa berbuat banyak. Karena itu ekonomi daerah itu akan sangat terganggu, kehidupan masyarakat juga akan sangat terganggu,” ujar Jusuf Kalla.
Rentetan kejadian tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai angka korban dan kerusakan. Di balik setiap musibah terdapat keluarga yang kehilangan anggota, warga yang kehilangan tempat tinggal, serta masyarakat yang harus kembali membangun kehidupannya.
Karena itu, kesiapsiagaan tidak semestinya hanya menjadi tugas pemerintah dan petugas penyelamat. Kesadaran menjaga lingkungan, mematuhi peringatan kebencanaan, memahami jalur evakuasi dan saling membantu di tengah keadaan darurat menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko.
Indonesia memang tidak dapat memilih untuk bebas dari bencana. Namun, dampak yang ditimbulkan dapat dikurangi apabila pemerintah, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan membangun budaya kesiapsiagaan secara bersama-sama. (red)
