DAERAHKESEHATANPENDIDIKANPERISTIWA

Kabut Asap Kepung Jambi, PM2.5 Kota Jambi Tembus Level Berbahaya

Jambi, Mediator

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi persoalan serius di Provinsi Jambi. Hingga Jumat, 18 September 2026, kualitas udara di sejumlah wilayah masih berada pada level tidak sehat, sementara Kota Jambi bahkan mencatat konsentrasi PM2.5 dalam kategori berbahaya.

Data pemantauan kualitas udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pukul 13.00 WIB menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Kota Jambi mencapai 339,7 µg/m³. Angka tersebut berada jauh di atas ambang kategori berbahaya, yakni lebih dari 250,5 µg/m³.

Sementara itu, Muaro Jambi tercatat 116,3 µg/m³, yang masuk kategori tidak sehat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan asap di Jambi belum berakhir. Bahkan, dampaknya mulai terasa pada berbagai aktivitas masyarakat.

Sekolah Kembali Terapkan Pembelajaran Jarak Jauh

Pemerintah Kota Jambi pada Jumat kembali memperpanjang kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi peserta didik TK/PAUD serta siswa SD kelas 1 hingga kelas 3.

Kebijakan tersebut diberlakukan karena kualitas udara dinilai belum sepenuhnya aman. Sementara siswa SD kelas 4–6 dan SMP kelas 7–9 masih mengikuti pembelajaran tatap muka dengan mempertimbangkan perkembangan kualitas udara.

Kebijakan pendidikan ini menjadi salah satu indikator nyata bahwa kabut asap telah memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak.

ISPA Menembus 7.824 Kasus

Dampak kesehatan juga mulai terlihat.

Dinas Kesehatan Provinsi Jambi mencatat 7.824 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga minggu ke-36 atau periode 6–12 September 2026.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan minggu sebelumnya. Pada minggu ke-34 tercatat 7.521 kasus, kemudian naik menjadi 7.563 kasus pada minggu ke-35 dan kembali meningkat menjadi 7.824 kasus pada minggu ke-36.

Dinas Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat.

Karhutla Masih Terjadi di Sejumlah Kabupaten

Kabut asap tidak terlepas dari masih berlangsungnya penanganan karhutla di sejumlah wilayah Jambi.

Data Posko Induk Satgas Karhutla Provinsi Jambi hingga 14 September 2026 mencatat 75 kasus karhutla yang ditangani melalui proses penegakan hukum sejak awal tahun.

Dari jumlah tersebut, 60 kasus masih dalam penyelidikan dan 15 kasus telah memasuki tahap penyidikan. Sebanyak 14 orang telah ditetapkan sebagai tersangka.

Luas lahan terbakar hingga periode tersebut mencapai sekitar 2.998,02 hektare, terdiri atas 2.289,27 hektare lahan mineral dan 708,75 hektare lahan gambut.

Wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar antara lain Batanghari 773,25 hektare, Muaro Jambi 556,61 hektare, Sarolangun 508,55 hektare, Tanjung Jabung Barat 488,75 hektare, Tebo 312,46 hektare dan Tanjung Jabung Timur 271,70 hektare.

Pada 14 September juga tercatat 236 titik panas, sementara secara kumulatif sejak Januari hingga 14 September mencapai 7.682 titik hotspot berdasarkan pemantauan satelit Terra Aqua dan SNPP.

Batanghari Kembali Terbakar

Di tengah kondisi udara yang buruk, karhutla masih ditemukan.

Di Sungai Pulai, Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari, lahan perkebunan sawit dan karet milik warga terbakar dengan luas yang telah dipadamkan sekitar 3 hektare.

Tim pemadam bahkan menghadapi kondisi api yang kembali muncul setelah sebelumnya dipadamkan. Satgas menduga terdapat pembakaran berulang di lokasi tersebut.

Asap Tidak Hanya Berasal dari Jambi

Persoalan kabut asap di Jambi juga memiliki dimensi lintas wilayah.

BMKG sebelumnya menyampaikan bahwa kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi merupakan dampak karhutla di sejumlah wilayah Jambi sekaligus asap dari Sumatera Selatan yang terbawa angin menuju Jambi.

Pada 15 September, jarak pandang di Kota Jambi bahkan sempat turun hingga sekitar 600 meter, sementara konsentrasi PM2.5 di Kota Jambi mencapai 251 dan Muaro Jambi 311 pada pemantauan saat itu.

Artinya, kondisi kualitas udara Jambi sangat dipengaruhi kombinasi antara sumber kebakaran lokal, asap dari wilayah sekitar dan dinamika angin serta atmosfer.

Hujan Menjadi Harapan

BMKG sebelumnya memprakirakan adanya peluang hujan pada 18–19 September, terutama di wilayah Jambi bagian barat, termasuk Kerinci, Sungai Penuh, Bungo, Merangin dan sebagian Sarolangun.

Hujan berpotensi membantu menurunkan konsentrasi partikulat dan memadamkan titik-titik api, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada intensitas, durasi dan lokasi hujan.

Jambi Belum Bisa Bernapas Lega

Dengan PM2.5 Kota Jambi mencapai 339,7 µg/m³, PJJ masih diberlakukan bagi sebagian siswa, kasus ISPA terus meningkat dan karhutla masih ditemukan di sejumlah kabupaten, persoalan kabut asap di Jambi belum dapat dianggap selesai.

Yang menjadi perhatian bukan sekadar tebal-tipisnya asap yang terlihat mata, tetapi partikel PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.

Karena itu, pemantauan kualitas udara, penanganan titik api, penegakan hukum terhadap pembakaran lahan serta perlindungan terhadap masyarakat harus berjalan secara bersamaan.

Jambi hari ini bukan hanya sedang menghadapi asap. Jambi sedang menghadapi konsekuensi dari karhutla yang berdampak pada kesehatan, pendidikan, lingkungan dan aktivitas masyarakat. (Pur)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *