Nyamuk DBD “Mengintai”, Waspadalah !
Jambi, Mediator
Sejak awal November 2021, curah hujan di Jambi mengalami peningkatan dan kondisi diprediksi akan terus terjadi hingga awal Februari 2022. Selain ancaman bencana hidrometeorologi, masyarakat diminta waspada terhadap Demam Berdarah Dengue (DBD).
Untuk mengindari penyakit yang belum ada obat maupun vaksinnya ini, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan, melakukan pemberantasan jentik nyamuk dengan 3M Plus (mengubur, menguras dan menutup plus hindarigigitan nyamuk).
“Upaya 3 M plus perlu digalakkan. Yakni meliputi membuang barang bekas, menutup tempat penampungan air dan membersihkan daerah sekitar masing-masing,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Provinsi Jambi, Eva Susanti.
Menurut dia, dalam menghadapi DBD, harus meningkatkan pemantauan jentik di rumah masing-masing. Lantaran jentik ini akan berkembang menjadi nyamuk dewasa dan menjadi faktor penular DBD.
“Selalu memantau jentik, seperti di bak penampungan dan talang air, pot bunga, ban bekas atau juga sampah yang tergenang air. Ditempat ini harusnya dilakukan pengurasan dan disikat sacara rutin agar tidak ada jentik yang berkembang disitu,” katanya.
Untuk perilaku masyarakat, Eva mengakui, pihaknya sudah melakukan upaya seperti mengangkat kader Juru Pemantau Jenti (Jumantik) hingga tingkat rukun tetangga.
“Kita tidak bisa sepenuhnya mengandalkan jumatik, tentu ada kerjasama dengan masyarakat terkait kebersihan di lingkungannya masing-masing,” sebutnya.
Mencegah lebih baik daripada mengobati
Lebih baik menghindari gigitan nyamuk, khususnya nyamuk aedes aegypti, ketimbang melakukan perawatan jika sudah terinfeksi. Cara paling efektif untuk menghindari gigitan nyamuk adalah dengan meniadakan keberadaan nyamuk di lingkungan tempat tinggal. Yaitu dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) agar tidak bisa berkembang biak dan hidup di sekitar rumah.
Menjaga kebersihan lingkungan rumah sangat dianjurkan agar nyamuk tidak memiliki tempat tinggal atau bahkan berkembang biak. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah membersihkan tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk, menguras air yang menggenang, menaburkan atau meneteskan larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah untuk menjaga aliran udara tetap bersih, menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang dapat menjadi tempat istirahat nyamuk.
Selain itu bisa juga mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk atau lotion anti nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, menanam tanaman pengusir nyamuk, serta penyemprotan disinfektan atau fogging untuk memberantas nyamuk.
Namun perlu diketahui bahwa fogging atau penyemprotan disinfektan bukan berarti menjamin keamanan lingkungan rumah dari nyamuk demam berdarah. Fogging semata tidak akan efektif apabila tidak dibarengi dengan menjaga kebersihan lingkungan rumah. Oleh karena itu menjaga kebersihan lingkungan seperti yang sudah disebutkan di atas adalah kunci penting untuk terhindar dari gigitan nyamuk demam berdarah.
Untuk itu, Ia menghimbau kepada orangtua untuk memberikan obat anti nyamuk (repelan) atau memastikan anaknya menggunakan lengan panjang saat beradi diluar rumah atau arena bermain.
“Nanti jika ada kasus positif biasanya akan dilakukan fogging untuk mencegah penularan, tapi fogging juga tak dilakukan secara terus menerus karena akan timbul resisten (kekebalan untuk nyamuk),” ucapnya.
Menurut Eva, usia yang rentan terkena DBD sebenarnya pada tingkat umur anak-anak. Karena anak suka bermain dan nyamuk DBD yang suka mengigit di siang hari. (ags)
