DAERAHPEMBANGUNANSERBA-SERBI

Makan Merawang, Upaya Pelestarian Budaya dan Penguatan UMKM Jambi

Jambi, Mediator

Makan merawang atau ada juga yang menyebutnya dengan makan berawang merupakan tradisi masyarakat Melayu Jambi. Dalam terjemahan bebas merawang adalah makan bersama di alam terbuka.

Dahulu, makan merawang kerap dilakukan ketika panen padi atau pada saat berkebun dan membuka lahan. Setiap orang yang datang akan membawa bahan makanan berupa beras, nasi, garam, lauk-pauk dan lain-lain untuk dimasak di tempat. Atau bisa juga, makanan yang telah dimasak dari rumah untuk kemudian saling berbagi dan dimakan bersama-sama ditempat merawang dilaksanakan, dalam suasana yang akrab, guyub, rukun.

Sekilas Merawang menyerupai kegiatan piknik bersama di alam terbuka. Namun jika ditelisik lebih jauh, kegiatan merawang ini tidak sama dengan piknik. Makan merawang  memiliki tujuan khusus yang sarat filosofi dan muatan kearifan lokal.

Tradisi ini juga merupakan upaya untuk menjalin silahturahmi dan saling berbagi. Mengumpulkan orang ramai agar guyub, rukun dan akrab. Kegiatan ini pun sengaja dilakukan di alam terbuka untuk lebih dekat mencintai dan memaknai alam sekitar.

Dalam rangka ikut serta dalam melestarikan budaya daerah ditengah masyarakat, Dewan Pengurus Daerah Perempuan Indonesia Mandiri (PIM) Provinsi Jambi mengadakan lomba makan merawang atau makan bersama khas daerah Jambi, di Pendopo Rumah Adat Jambi, tepatnya disamping kiri Kantor Gubernur Jambi, di kawasan Telanaipura, Kota Jambi, Provinsi Jambi, Minggu (12/02/2023).

Sejak pagi, peserta mulai tampak berdatangan ke lokasi acara. Meskipun terlihat berpeluh karena lokasi parkir kendaraan dengan lokasi lumayan jauh, karena jalan masuk dipakai untuk kegiatan Car Free Day. Mereka juga cukup direpotkan dengan peralatan dan makanan yang sudah di masak di rumah masing-masing untuk kemudian disajikan saat lomba.

Namun, hal itu tak menyurutkan langkah ibu-ibu yang terlihat cantik dengan busana baju kurung dan tengkuluk yang menghiasi kepalanya.

” Lomba ini.merupakan bentuk upaya kami dalam melestarikan kebudayaan Jambi. Kedepan, kegiatan serupa akan dibuat lebih besar yang dikemas dalam Festival Batanghari, dimana kami akan mengundang seribuan orang untuk makan merawang serta bisa mencatatkan dalam rekor Muri,” kata Ketua PIM Provinsi Jambi, DR Ir Hj Hariatia, ME, M.Si kepada Mediator News.

Ada pun peserta lomba terdiri dari berbagai organisasi kewanitaan dan pelaku UMKM Jambi. Tercatat ada 13 kelompok yang ikut dalam lomba tersebut. Masing-masing kelompok terdiri dari sepuluh orang.

Panitia membebaskan menu apa saja yang akan diperlombakan. Masakannya pun boleh beragam, dengan kriteria penilai, unik, jadul, keserasia rasa, kerapian dan kebersihan makanan.

Dalam sesi penjurian, Ketua juri, Hj Farida Rozi yang didampingi tiga orang anggota, menyapa dan memberi pertanyaan kepada semua peserta lomba seputar nama makanan, bahan, dan cara memasak.

Hasilnya, pemenang pertama mendapat hadiah uang sebesar Rp 500 ribu, juara 2 mendapatkan uang Rp300 ribu dan Juara 3 mendapatkan uang sebesar Rp200 ribu. Sedangkan juara harapan 1,2 dan 3 masing-masing mendapatkan hadiah uang sebesar Rp 150 ribu. Sementara itu panitia juga memberikan Rp100 ribu untuk 7 peserta lainnya.

PD V Wanita KB FKPPI Jambi, adalah salah salah satu peserta lomba Merawang.

“Meskipun belum menjadi yang terbaik, dan baru berhasil meraih harapan 2, tapi saya senang dan bangga Wanita FKPPi Jambi bisa terlibat dalam upaya pelestarian budaya lokal Jambi,” kata Ketua PD V Wanita KB FKPPI Jambi, Hj Ratna Juita, SE, yang ditemui usai acara.

Ibu Ita, biasa ia disapa, menyebut upaya pelestarian budaya lokal masuk dalam program kerja prioritas di KB FKPPI. Salah satunya, penguatan pemberdayaan perempuan terutama di sektor UMKM.

“Eksistensi perempuan sangat penting, tidak hanya berpengaruh pada ketahanan keluarga tapi juga bagi negara. Perempuan berdaya, keluarga tangguh, Indonesia sejahtera, FKPPI berjaya,” tegasnya.

(tsa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *