DAERAHEKONOMIPEMBANGUNAN

Tanjung Jabung Barat Menatap Dunia, Kolaborasi Global Menuju Industri Kelapa Terpadu

Kuala Tungkal, Mediator

Kabupaten Tanjung Jabung Barat mulai menegaskan langkah strategisnya menuju masa depan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Tidak lagi sekadar penghasil kelapa mentah, daerah ini kini berupaya mengubah potensi besar tersebut menjadi industri kelapa terpadu berkelas dunia.
Semangat itu tercermin dalam audiensi antara Wakil Bupati Tanjung Jabung Barat, Dr. H. Katamso, S.A., S.E., M.E., dengan perwakilan Aachen University, Jerman, dan Roemah Kelapa Indonesia (RoeKI) di Rumah Dinas Wakil Bupati, Senin malam (27/10/2025). Pertemuan ini bukan hanya agenda seremonial, melainkan langkah konkret menuju kolaborasi internasional dalam penguatan hilirisasi industri kelapa nasional.
Audiensi tersebut merupakan kelanjutan dari pembahasan antara Bupati Anwar Sadat dan RoeKI awal Oktober lalu, yang sejalan dengan arah kebijakan nasional melalui RPJMN 2025–2029 dan RPJPN 2025–2045, di mana komoditas kelapa ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional.
Kabupaten Tanjung Jabung Barat memang memiliki modal besar di sektor ini. Dengan luas areal kelapa mencapai lebih dari 50 ribu hektare di tujuh kecamatan, daerah ini memegang peran penting dalam rantai produksi kelapa nasional. Namun, potensi besar itu selama ini masih terkendala pada rendahnya nilai tambah produk. Melalui kemitraan dengan lembaga riset dan industri global, pemerintah daerah berharap mampu mengubah kelapa dari sekadar bahan mentah menjadi komoditas bernilai tinggi.
Dalam pertemuan itu, Wabup Katamso menyampaikan apresiasi atas komitmen RoeKI dan pihak Aachen University yang ingin berkontribusi dalam peningkatan industri kelapa di Tanjab Barat. Dalam percakapan dengan Head of Staple Fibre Technologies Aachen University, Mr. Justin Kuhn, Katamso menegaskan pentingnya transformasi dari pertanian tradisional ke industri berbasis inovasi dan teknologi.
“Sebagian besar masyarakat kami adalah petani kelapa. Kami ingin agar ke depan, kelapa tidak hanya dijual mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah. Dengan teknologi dan riset yang kuat, kami ingin menciptakan berbagai produk turunan kelapa yang kompetitif,” ujar Wabup Katamso dalam Bahasa Inggris.
Ia menambahkan, kerja sama ini juga akan mencakup pengembangan sekolah kejuruan (vocational school) bidang perkelapaan, agar para petani dan penyuluh mendapatkan pengetahuan praktis mengenai pengolahan kelapa modern. Pemerintah daerah berkomitmen mempercepat proses menuju penandatanganan MoU sebagai langkah awal kerja sama nyata.
Sementara itu, Galih Batara Muda dari Roemah Kelapa Indonesia menegaskan dukungannya agar Tanjung Jabung Barat menjadi model nasional industri kelapa terpadu.
“Kami melihat Tanjab Barat memiliki potensi luar biasa. Kami ingin menjadikannya sebagai prototipe pengembangan industri kelapa dari hulu hingga hilir yang bisa direplikasi di daerah lain,” ujarnya.
Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh jajaran pejabat daerah, termasuk Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan, serta perwakilan Bappeda dan Dinas Koperasi. Keterlibatan lintas sektor ini menegaskan bahwa pengembangan industri kelapa bukan hanya agenda ekonomi, tetapi juga gerakan bersama menuju kemandirian daerah dan kesejahteraan petani.
Jika kerja sama ini berhasil terwujud, Tanjung Jabung Barat tidak hanya akan dikenal sebagai daerah penghasil kelapa, tetapi juga sebagai pusat inovasi agroindustri nasional. Dari Kuala Tungkal, gema pembangunan berbasis kolaborasi global kini mulai terdengar — membawa harapan baru bagi ekonomi rakyat dan masa depan industri kelapa Indonesia.(sls)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *