HIBURANKEBUDAYAANPENDIDIKANSERBA-SERBI

Wak Labu dan Ladang Perintah yang Tandus

Cerita Fiksi (Hikmah Kehidupan)

Di sebuah kampung bernama Tumaritis, hiduplah seorang tetua bernama Wak Labu. Ia bukan penguasa formal, namun pengaruhnya mengalahkan siapa pun. Seorang yang dihormati karena usianya yang sepuh, namun seringkali lupa bahwa usia tak selalu berbanding lurus dengan kebijaksanaan. Pengetahuannya tentang dunia tak lebih luas dari kebun labunya, tapi keyakinannya tentang kebenaran sendiri seluas langit. Seperti Sangkuni di dunia wayang, Wak Labu adalah ahli dalam merangkai kata manis dan tipu muslihat, selalu untuk memastikan kedudukannya aman dan kantongnya terisi.

Wak Labu memerintah dengan satu senjata utama: “Zaman Saya”. Setiap usulan baru dari para pemuda, selalu ditepis dengan kalimat, “Kamu ini baru kemarin lahir. Zaman saya dulu, semua ini sudah pernah dicoba dan gagal!” Padahal, zaman Wak Labu ‘dulu’ adalah masa ketika sawah masih diairi dengan timba, dan informasi datang selewat kabar burung. Pengetahuannya terperangkap dalam tempurung kelapa tua, tetapi ia bersikeras tempurung itulah seluruh langit.

Suatu ketika, kampung dilanda gagal panen padi. Para petani muda yang melek teknologi mengusulkan bibit unggul baru dan sistem irigasi tetes. Mereka membawa data, hitungan, dan contoh sukses dari kampung sebelah. Wak Labu hanya mendengarkan dengan sebelah telinga, sementara pikirannya berputar mencari celah keuntungan.

“Bibit baru? Itu cuma akal-akalan perusahaan besar! Irigasi tetes? Boros air dan butuh uang banyak,” gertaknya dalam rapat desa. Matanya yang kecil berbinar licik. “Saya punya solusi yang lebih bijak. Semua ladang akan ditanami dengan pola khusus warisan leluhur, dan kalian wajib membeli pupuk ‘istimewa’ dari koperasi yang saya kelola.”

Pupuk ‘istimewa’ itu hanyalah campuran kotoran hewan dan abu biasa yang dijual tiga kali lipat harganya. Pola tanam ‘warisan leluhur’ adalah pola acak yang ia klaim mistis, padahal hanya untuk membingungkan sehingga hanya ia yang bisa ‘menafsirkan’ kebutuhan tiap petak sawah. Ia membuat aturan rumit, penuh dengan larangan dan kewajiban membayar ijin ini-itu, yang ujung-ujungnya masuk ke kas pribadinya.

Ketika beberapa pemuda berani mempertanyakan, mereka dituduh sebagai “agen asing” atau “tidak punya rasa hormat”. Wak Labu pandai memecah belah. Ia membisiki si A bahwa si B ingin merebut jabatannya. Ia janjikan bagian hasil lebih besar pada si C yang jadi pendukungnya. Ia ciptakan musuh bersama berupa ‘ancaman dari kota’ agar warga sibuk dan tak sempat mengkritik kebijakannya yang sesungguhnya merugikan.

Puncaknya adalah ketika gagal panen semakin parah. Ladang yang mengikuti pola Wak Labu justru lebih tandus. Alih-alih introspeksi, ia malah mengeluarkan perintah baru: “Ini semua karena kalian tidak patuh sepenuhnya! Mulai sekarang, sebagian hasil panen yang tersisa harus diserahkan ke lumbung darurat yang saya awasi, untuk ‘kesejahteraan bersama’.” Tentu saja, lumbung itu berakhir di dapurnya sendiri. Ia dan keluarganya tetap makan nasi putih sementara rakyatnya makan tiwul.

Suatu malam, bencana datang. Hujan deras melanda dan sungai meluap karena hutan di atasnya sudah gundul akibat izin tebang liar yang Wak Labu jual. Air bah menerjang lumbung pribadinya yang penuh beras, menghanyutkan semua simpanannya. Sementara, lumbung kecil milik warga yang tersebar justru selamat.

Di pagi hari yang kelabu, Wak Labu duduk di puing rumahnya. Warga berkumpul, wajah mereka penuh dengan kelelahan, bukan amarah. Seorang nenek tua yang biasanya pendiam maju dan berkata lirih, “Wak Labu, dulu orang tua kita bilang, labu yang terlalu lama di pohon akhirnya akan jatuh sendiri. Rasa pahitnya bukan untuk dimakan, tapi untuk dijadikan pelajaran.”

Wak Labu terdiam. Untuk pertama kalinya, kata-katanya habis. Kelicikannya yang seperti Sangkuni, yang selalu berhasil memutar balik fakta, tak berguna menghadapi kebenaran sekeras air bah dan kenyataan pahit dari ladang-ladang yang ia sendiri buat tandus.

Kisah Wak Labu adalah gambaran klasik tentang otoritas yang lahir dari kelicikan, bukan kebijaksanaan; tentang penguasa yang memandang rakyat sebagai ladang untuk dipanen demi kepentingannya sendiri. Ia mungkin pintar mengatur taktik, tetapi buta terhadap strategi besar bernama “kesejahteraan bersama”. Pada akhirnya, seperti semua labu yang membusuk, kekuasaan yang dibangun di atas kebohongan dan keserakahan akan menemui saatnya jatuh dan hancur berantakan, menyisakan hanya bau busuk dan tanah yang harus diperbaiki dengan sangat susah payah oleh mereka yang selamat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *