Ketika Lagu Sederhana Mengajak Kita Pulang kepada Makna Cinta
Renungan
Ada kalanya sebuah lagu tidak perlu dibawakan oleh penyanyi hebat untuk terasa dalam. Cukup seseorang yang menikmati musik dengan caranya sendiri, menyanyikannya dengan suara seadanya, tetapi membawa hati yang penuh pengalaman.
Ketika Surat Cinta untuk Starla dinyanyikan, mungkin yang terdengar bukan sekadar rangkaian nada dan lirik. Ada sesuatu yang perlahan mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan.
Kita kemudian bertanya kepada diri sendiri: siapa sebenarnya orang yang selama ini menjadi alasan kita bertahan? Kepada siapa kita ingin mengucapkan terima kasih? Dan siapa yang diam-diam telah membuat hidup kita terasa lebih berarti?
Bagi sebagian orang, lagu itu mungkin mengingatkan kepada pasangan. Bagi yang lain, kepada anak, orang tua, atau seseorang yang pernah begitu berarti tetapi kini hanya tinggal kenangan.
Dan bagi seorang penikmat musik awam yang menyanyikannya, mungkin lagu itu bukan tentang bagaimana indahnya suara. Bukan pula tentang apakah nada yang dinyanyikan sempurna. Tetapi tentang keberanian mengungkapkan sesuatu yang sering kali sulit kita ucapkan secara langsung: bahwa ada seseorang yang kita cintai, kita syukuri kehadirannya, dan ingin kita jaga selama masih diberi kesempatan.
Kita sering terlalu sibuk mengejar kehidupan.
Mengejar uang, pekerjaan, kedudukan, dan berbagai keinginan. Sampai terkadang lupa bahwa pada akhirnya yang paling kita rindukan bukanlah semua yang pernah kita miliki, melainkan orang-orang yang pernah mengisi hidup kita.
Mungkin karena itu, ketika lagu ini dibawakan, kita tidak hanya mendengarkan penyanyinya.
Kita mendengarkan diri kita sendiri.
Kita mengingat wajah-wajah yang pernah membuat kita bahagia. Kita teringat orang yang pernah menggenggam tangan kita ketika dunia terasa berat.
Kita teringat orang tua yang semakin menua. Kita teringat anak-anak yang tanpa terasa telah tumbuh dewasa. Bahkan mungkin kita teringat seseorang yang sudah tidak lagi bisa kita temui.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa sempurna suara kita ketika menyanyikan sebuah lagu.
Hidup adalah tentang seberapa tulus kita menyampaikan cinta sebelum kesempatan itu hilang.
Sebab tidak semua perasaan sempat disampaikan. Tidak semua permintaan maaf sempat diucapkan. Tidak semua pelukan sempat diberikan.
Dan tidak semua orang yang kita cintai akan selalu berada di samping kita.
Maka, ketika lagu itu selesai dinyanyikan, mungkin ada baiknya kita tidak buru-buru bertepuk tangan.
Berhentilah sejenak.
Tanyakan kepada hati kita masing-masing :
Sudahkah kita mengatakan kepada orang-orang yang kita cintai bahwa mereka berarti bagi kita?
Jika belum, mungkin malam ini adalah waktu yang baik untuk mengatakannya.
Karena terkadang, sebuah lagu sederhana dari seorang penikmat musik awam justru mampu mengingatkan kita pada sesuatu yang sering kita lupakan:
Kita boleh tidak pandai bernyanyi, tetapi jangan sampai kita tidak pandai mencintai.
Dan selama masih ada kesempatan, jangan hanya menyimpan surat cinta di dalam hati.
Sampaikanlah. (*)
