DAERAHEKONOMISERBA-SERBI

Peminat Sarang Ketupat Sepi, Pedagang Mengaku Tak Balik Modal

Jambi, Mediator

Di setiap momen lebaran, selain daging Sapi, Kerbau dan Ayam, sarang ketupat selalu menjadi buruan masyarakat untuk dijadikan sebagai menu utama di meja makan. Namun sayangnya, pada Lebaran Idul Adha tahun ini, sarang ketupat yang berbahan daun kelapa muda ini tak banyak diminati pembeli. Pedagang pun mengaku tak balik modal.

Santi, pedagang ketupat dadakan di kawasan Pasar Angso Duo mengaku, penjualan sarang ketupat jauh merosot dibanding lebaran Idul Fitri kemarin.

“Dibandingkan dengan lebaran kemarin (Idul Fitri,red), penjualan kali ini merosot jauh. Biasanya selalu habis, bahkan bisa bantu kawan jualkan dagangannya, dapat untung seribu jadilah. Sekarang nak balek bae, ketupatnya masih banyak,” akuinya.

Sebagai penjual dadakan, Ia mengaku mendapatkan daun kelapa muda dengan cara membeli ke pengepul. Daun-daun kelapa muda itu selanjutnya dirangkai menjadi sarang ketupat. Untuk satu ikat diisi dengan 10 sarang ketupat, dengan variasi besar dan kecil, tergantung besaran daunnya.

Ia menyebut, sarang-sarang ketupat dengan ukuran besar itu dibandrol Rp10 -12 ribu per isi 10, sedangkan ukuran kecil bisanya Rp 5-6 ribu. Hanya saja, harga tersebut terpaksa “dibanting harga” kalau bentuknya sudah tidak segar lagi.

“Terkadang, kami masih buat sarangnya bae, orang sudah pesan. Sekarang la sampe sore dagangan masih banyak. Satu-satunya cara yang banting hargalah. Yang penting balik modal bae, sudah syukur,” ujarnya.

Dia juga menyebutkan, umumnya berjualan sarang ketupat dilakukan dua hari sebelum lebaran hingga H-1 lebaran. “Mulai berjualan H-2 sampai H+ 1 lebaran. Terlebih lebaran qurban seperti ini masyarakat masih mencari sarang ketupat, kan dapat jatah daging qurban,” ujarnya tertawa.

Kondisi serupa juga dialami Susi, penjual sarang ketupat di kawasan Pasar Talang Banjar. Menurut dia, sejak pandemi Covid 19, permintaan terus mengalami penurunan. Jika sebelumnya orang datang dengan sistim drop, untuk dijual kembali. Namun saat ini pembeli kebanyakan berasal dari rumah tangga.

“Dulu sistim drop, orang ngambil banyak untuk dijual lagi, sekarang kebanyakan untuk konsumsi rumah tangga, paling banyak 50 ikat saja,” katanya.

Beruntung dia dibantu anaknya memasarkan secara online, sehingga kerugian yang dialami tidak terlalu banyak.

“Anak saya jual secara online, jadi tergantung pesanan baru kami buat. Terlebih kami juga punya pohon kelapa sendiri, jadi tinggal ambil seperlunya saja. Kalau ada sisanya baru di bawa ke pasar,” ujar Mbak Sus, yang kesehariannya menjual sayura-sayuran ini.

Wati, warga Jelutung, mengaku sudah dua tahun terakhir membeli sarang ketupat dengan cara pesan online. Cara itu, lebih memudahkannya memilih kualitas sarang ketupat seperti yang ia inginkan.

“Sekarang serba online, jadi beli ketupatnya juga online. Tinggal pilih mau beli sarangnya atau yang sudah jadi ketupatnya. Ada harga ada rupa, cocoklah,” ujarnya.

(dra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *