Kisah Sebungkus Roti
Suatu pagi, suasana bandara begitu sibuk. Orang-orang berlalu-lalang mengejar waktu. Di antara keramaian itu tampak seorang pebisnis paruh baya yang akrab disapa Wak Labu.
Langkahnya tergesa-gesa karena waktu keberangkatannya sudah semakin dekat.
Sebelum menuju konter check-in, Wak Labu sempat mampir ke sebuah toko kecil di dalam bandara. Ia membeli sebungkus Roti Bantal sebagai bekal menunggu penerbangan.
Setelah selesai check-in, ia masuk ke ruang tunggu keberangkatan. Pandangannya menyapu ruangan hingga menemukan sebuah bangku panjang yang masih menyisakan tempat kosong. Di ujung bangku itu sudah duduk seorang anak muda yang tampak tenang.
Wak Labu pun duduk di sisi satunya.
Di tengah-tengah mereka tergeletak sebungkus Roti Bantal.
Belum sempat Wak Labu membuka percakapan, anak muda itu dengan santainya membuka bungkus roti tersebut, mengambil sepotong, lalu memakannya dengan lahap.
Yang lebih mengejutkan lagi, sambil tersenyum ia berkata,
“Silakan, Wak… mari dimakan.”
Seketika wajah Wak Labu memerah.
Darahnya terasa mendidih.
Dalam hati ia bergumam,
“Kurang ajar benar pemuda ini. Sudah mengambil roti milik orang tanpa izin, malah pemiliknya yang ditawari. Anak muda zaman sekarang benar-benar tidak tahu sopan santun.”
Namun demi menjaga wibawa, Wak Labu hanya membalas dengan senyum tipis yang dipaksakan. Ia mengangguk pelan, lalu mengambil sepotong roti dan memakannya.
Tak satu pun kata keluar dari mulut mereka.
Yang terdengar hanya suara langkah orang-orang dan pengumuman keberangkatan dari pengeras suara bandara.
Tak lama kemudian, tinggal sepotong roti terakhir di dalam bungkus.
Hampir bersamaan, Wak Labu dan pemuda itu mengulurkan tangan.
Tap!
Tangan mereka bertemu tepat di atas potongan roti terakhir.
Wajah Wak Labu kembali memerah.
Ia menahan kesal.
Dengan berat hati ia menarik tangannya, membiarkan pemuda itu mengambil roti terakhir tersebut.
Namun sesuatu yang tidak diduganya terjadi.
Pemuda itu tersenyum sopan.
Roti terakhir itu dibelah menjadi dua.
Separuh disodorkan kepada Wak Labu.
“Silakan, Wak…” ucapnya dengan tulus.
Separuh lagi baru ia makan sendiri.
Belum sempat Wak Labu berkata apa-apa, terdengar pengumuman,
“Attention please… para penumpang dipersilakan segera menuju pintu keberangkatan…”
Wak Labu segera memasukkan potongan roti di tangannya ke mulut, mengangkat tasnya, lalu berjalan cepat menuju pintu boarding.
Sepanjang perjalanan menuju pesawat, hatinya masih dipenuhi rasa dongkol.
“Dasar anak muda tak tahu diri…” pikirnya.
Sesampainya di kursi pesawat, Wak Labu membuka tasnya untuk mematikan telepon genggam.
Namun seketika tangannya terhenti.
Matanya membelalak.
Di dalam tasnya…
Masih ada…
Sebungkus Roti Bantal.
Persis seperti yang ia beli tadi.
Belum terbuka.
Belum tersentuh.
Jantungnya seolah berhenti berdetak beberapa detik.
Pikirannya berputar.
“Kalau rotiku masih ada di dalam tas… lalu roti yang tadi kami makan bersama… milik siapa?”
Ia terdiam.
Perlahan wajahnya yang tadi memerah karena marah, kini memerah karena malu.
Air mukanya berubah.
Dadanya terasa sesak.
Barulah ia menyadari kenyataan yang sesungguhnya.
Roti yang dimakan bersama tadi…
Bukan miliknya.
Itu adalah milik pemuda yang sejak awal ia anggap kurang ajar.
Bahkan pemuda itu sama sekali tidak marah ketika rotinya dimakan orang asing.
Sebaliknya, ia justru dengan ramah menawarkan, berbagi, bahkan membelah potongan terakhir agar mereka bisa menikmatinya bersama.
Sedangkan dirinya?
Tanpa sadar ia telah menikmati makanan milik orang lain.
Ia telah menghakimi seseorang tanpa mencari tahu kenyataannya.
Ia telah menuduh dalam hati orang yang justru memiliki akhlak jauh lebih baik darinya.
Wak Labu menundukkan kepala.
Penyesalan datang terlambat.
Ia menoleh ke arah jendela pesawat.
Pemuda itu sudah tak mungkin ditemui lagi.
Ternyata…
Pemuda itu bahkan tidak berada dalam penerbangan yang sama.
Dengan suara lirih yang hanya didengar oleh dirinya sendiri, Wak Labu berbisik,
“Ya Allah… ternyata bukan dia yang kurang ajar. Justru akulah yang telah berburuk sangka. Akulah yang menikmati hak orang lain tanpa sadar. Akulah yang gagal menjaga prasangka baik.”
Pesawat mulai bergerak meninggalkan landasan.
Namun hati Wak Labu tetap tertinggal di ruang tunggu bandara.
Membawa satu pertanyaan yang terus menghantuinya,
“Bagaimana aku bisa meminta maaf kepada seseorang yang bahkan namanya pun tidak pernah kutanyakan?”
Hikmah
Betapa sering kita menilai seseorang hanya dari apa yang tampak di mata.
Betapa mudah kita berburuk sangka sebelum mengetahui kenyataan.
Padahal bisa jadi, orang yang kita anggap bersalah justru sedang berbuat baik kepada kita.
Karena itu, jangan terburu-buru menghakimi.
Sebab tidak semua yang kita lihat adalah kebenaran.
Dan tidak semua yang kita yakini adalah kenyataan.
Prasangka bisa membuat orang baik tampak buruk. Sedangkan kerendahan hati akan membuat kita berani mengakui kesalahan sebelum semuanya terlambat.
