Akankah Kurikulum Prototipe Jadi Strategi Jitu Atasi Learning Loss?
Oleh: Nelson Sihaloho
*).Penulis Guru SMPN 11 Kota Jambi
Email:sihaloho11@yahoo.com,nelsonsihaloho06@gmail.com.
Abstrak:
Pandemi Covid-19 memberikan akibat yang besar terhadap banyak sektor termasuk bidang pendidikan. Bahkan, pengetahuan dan kemampuan siswa menjadi hilang akibat pandemi. Saat ini, dunia pendidikan Indonesia tengah berada pada masa pemulihan setelah masa kritis pembelajaran akibat pandemic Covid-19 berangsur mulai melandai dan berkurang. Kendati muncul berbagai virus baru diantaranya Omicron pemulihan terhadap pendidikan harus terus dilakukan dengan berkelanjutan, Berbagai upaya dihadirkan untuk mengatasi kesempatan belajar (learning loss) yakni dengan melakukan penyesuaian dan penyederhanaan kurikulum. Salah satu model kurikulum yang diperkirakan mampu memitigasi learning loss secara lebih efektif dan efisien adalah Kurikulum Prototipe. Banyak kalangan menyatakan bahwa sebelum diterapkan perlu dipahami dengan mendalam tentang konsep Kurikulum Prototipe tersebut. Kurikulum yang padat materi sedangkan pembelajaran tatap muka (PTM) dilakukan dengan cara terbatas. Suatu hal yang tidak mungkin untuk mencapai kualitas belajar. Akankah Kurikulum Prototipe merupakan strategi jitu dan ampuh dalam mengatasi “learning loss” dalam dunia pendidikan kita?
Kata kunci:strategi, learning loss, kurikulum prototype.
Berupa Pilihan Model
Kurikulum prototipe berbasis kompetensi statusnya semacam model. Model untuk pilihan di mana guru dan peserta didik tidak merasa terlalu terbebani. Penyempurnaan dari kurikulum darurat ke kurikulum prototipe ini (strukturnya) lebih ditata dan disedehanakan. Sebagaimana dikeathui bahwa Kurikulum prototipe pemulihan pembelajaran yang menjadi dasar untuk pengembangan kurikulum prototipe. Selama dua tahun, yakni tahun 2022 hingga 2024 sekolah dapat menerapkan kurikulum prototipe. Kurikulum prototype mendorong pembelajaran sesuai dengan kemampuan siswa, memberi ruang lebih luas pada pengembangan karakter serta kompetensi dasar. Untuk mengoptimalisasikan penerapan kurikulum prototype di SMA/K, Guru BK turut membantu siswa menentukan pilihan mata pelajaran yang sesuai dengan minatnya. Namun untuk jenjang SD dan SMP belum ada juknis yang mengaturnya. Intnya Guru sebelum memulai pembelajaran, pastikan guru memahami materi yang akan dipelajari siswa, apa makna dari pembelajaran tersebut?. Metode apa yang menarik minat belajar siswa, serta identifikasi apakah ada perubahan positif pada diri siswa setelah belajar?.Sebab kurikulum yang relevan merupakan instrumen yang sangat berpengaruh dalam mencegah kesenjangan terutama terhadap peserta didik yang memiliki keterbatasan ekonomi, sosial, maupun geografis. Kurikulum yang baik akan mendorong guru untuk berfokus pada tumbuh kembang karakter dan kompetensi peserta didik. Kurikulum yang baik mendorong guru untuk lebih memperhatikan kemajuan belajar peserta didiknya. Kurikulum prototipetidak diwajibkan oleh pemerintah kepada sekolah, melainkan ditawarkan sebagai opsi atau pilihan. Karena itu pentingnya adaptasi serta inovasi agar dapat bertahan di tengah perkembangan zaman maupun ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). KKurikulum prototipe memiliki beberapa karakteristik utama yang mendukung pemulihan pembelajaran, antara lain: 1) adanya pengembangan soft skills dan karakter (akhlak mulia, gotong royong, kebinekaan, kemandirian, nalar kritis, kreativitas) mendapat porsi khusus melalui pembelajaran berbasis projek. 2). Fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi, dan 3). Adanya fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid (teach at the right level) dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal.
Jadi Strategi Jitu?
Kurikulum Prototipe diyakini mampu membantu sekolah mengatasi akibat kehilangan pembelajaran (learning loss) serta tidak optimalnya pembelajaran selama dua tahun terakhir. Karena itu dalam mengatasi learning loss guru dituntut untuk memiliki kreatifitas dalam menjalankan kurikulum prototype. Mengutip Kemdikbud Ristek (2021) membeberkan tiga karakteristik utama Kurikulum Prototipe yang dinilai dapat mendukung pemulihan pembelajaran. Pertama, pengembangan kemampuan non-teknis (soft skills) dan karakter mendapat porsi khusus melalui pembelajaran berbasis proyek. Kedua, Kurikulum Prototipe berfokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi. Ketiga, fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan local. Merujuk pada hal diatas maka dapat dianalisis dengan cermat bahwa perancangan kurikulum sekolah pun dapat diatur dengan lebih fleksibel. Tujuan belajar ditetapkan per fase, yakni dua hingga tiga tahun, untuk memberi fleksibilitas terhadap guru dan sekolah. Jam pelajaran ditetapkan per tahun agar sekolah dapat berinovasi dalam menyusun kurikulum dan pembelajarannya. Dengan semakin meningkatnya layanan pembelajaran di sekolah maka peserta didik akan tumbuh dan berkembang sesuai potensinya. Kurikulum Prototipe memang tidak dipaksakan namun pihak sekolah diberikan opsi sukarela. Terhadap satuan pendidikan yang tertarik, sebagai langkah awal, mereka akan diberi pemahaman tentang paradigma kurikulum prototype terlebih dahulu. Selanjutnya sekolah diberi kebebasan untuk memilih apakah ingin langsung belajar sambil praktik, atau ingin mempelajari dulu konsepnya selama satu tahun untuk kemudian baru diimplementasikan di tahun berikutnya. Guru dan peserta didik diberikan kesempatan untuk memberi umpan balik terkait pengalaman mereka selama menjalankan kurikulum prototipe. Kurikulum prototipe, berbasis proyek yang mengacu pada nilai-nilai Pelajar Pancasila. Sangat mungkin satu proyek terkait dengan beberapa materi pembelajaran maupun lintas mata pelajaran. Implikasinya adalah dengan memberi ruang kepada peserta didik untuk berkreasi dan mengembangkan potensi belajarnya agar anak merasa menemukan makna dari belajar tersebut. Selain itu bisa memecahkan masalahnya sendiri dengan cara mandiri maupun berkelompok sehingga sisi akademik dan nonakademiknya berkembang dengan utuh. Kepala kepala sekolah juga dituntut untuk memahami betul konsep pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik agar bisa mengelola SDM yang ada di satuan pendidikan dan melihat kualitas belajar peserta didik. Kepala sekolah juga harus melakukan supervisi ke dalam kelas, serta membangun jejaring dengan komite dan masyarakat untuk menjamin proses belajar yang berlangsung memiliki manfaat. Apabila kita bandingkan dengan Kurikulum 2013 kontennya sangat adat. Kini dengan perubahan/disrupsi yang sangat cepat terutama masih adanya pandemi Covid-19, sangat tidak mungkin bertahan dengan konsep pembelajaran yang padat konten sehingga tidak memberikan ruang menumbuhkan potensi terhadap peserta didik. Kurikulum Prototipe yang mengedepankan penyederhanaan materi pembelajaran bisa jadi menjadi pilihan jitu dalam mengatasi learning loss. Membuat anak maupun peserta didik bahagia dalam pembelajaran merupakan ciri khas dari Kurikulum Prototipe.
Migitasi learning loss merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko akibat kehilangan pembelajaran dampak pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Menghadapi kondisi tersebut, sekolah diberikan tiga opsi untuk menggunakan kurikulum yang disederhanakan agar dapat berfokus pada penguatan karakter dan kompetensi mendasar. Ketiga pilihan ini mengacu pada dasar hukum Kepmendikbud Nomor 719/P/2020. Hasilnya ada sebanyak 59,2% yang menggunakan Kurikulum 2013 secara penuh, 31,5% menggunakan “Kurikulum Darurat” (Kurikulum 2013 yang disederhanakan Kemendikbudristek), dan sisanya 8,9% yang memilih melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri. Setidaknya ada tiga keunggulan yang cukup nyata dari kurikulum prototipe yang akan diterapkan oleh sebagian sekolah pada awal tahun ajaran baru 2022. Yakni keunggulan yang bersifat substansi, implementasi, dan implikasi. Keunggulan substansi atau karakteristik dari kurikulum prototipe ini memang menunjukkan unifikasi dan memiliki perbedaan dengan kurikulum yang diterapkan sebelumnya. Kedua, fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam terhadap kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi. Ketiga, adanya fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid (teach at the right level) dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal. Proses implementasi. Seiring dengan penerapan kurikulum prototipe pemerintah gencar menerapkan program merdeka belajar. Guna mengimplementasikan program merdeka belajar ini, Kemdikbud gencar pula merekrut dan menyiapkan sekolah penggerak, kepala sekolah penggerak dan guru penggerak. Mereka-mereka inilah yang secara langsung nantinya akan menjadi subjek terdepan dalam pelaksanaan program merdeka belajar termasuk di dalamnya dalam penerapan kurikulum prototipe. Kita berharap semoga Kurikulum Prototipe bisa menjadi strategi jitu dalam mengatasi learning loss dalam pendidikan kita. Teknologi digital yang kini telah banyak ditransformasikan sejatinya harus dipastikan bahwa tujuan memanfaatkan teknologi dalam pendidikan adalah untuk mendidik anak-anak bangsa dalam menghadapi tantangan di masa depan. Semoga bermanfaat. (*).
Rujukan:
- Engzell, P., Frey, A., & Verhagen, M. D. (2021). Learning loss due to school closures during the COVID-19 pandemic. Proceedings of the National Academy of Sciences, 118(17).
- Hanushek, E. A., Woessmann, L. 2020. The Economic Impacts of Learning Losses. OECD. September 2020.
- Quinn, D. M., Polikoff, M. 2017. Summer learning loss: What is it, and what can we do about it? A report. Diunduh dari https://www.brookings.edu/research/summer-learning-loss-what-is-it-and-what-can-we-do-about-it/.
- htps://www.ukfiet.org/2020/the-covid-19-induced-learning-loss-what-is-it-and-how-it-can-be-mitigated/diakses pada tanggal 25 Februari 2021.
