Datang Samo “Omaknyo”
Kato Bang Tasman
VIRUS CORONA belum mau enyah di negeri ini. Termasuk di Provinsi Jambi. Bak cerita drama, kasus Covid-19 terus nyambung. Habis varian Delta dari India. Dan Alfa dari Inggeris. Kini, datang induknya Omicron yang oleh banyak warga diplesetkan jadi : Ummicron.
Bermakna: ummi=Omak/Emak. Atau induk ee dari Corona. Ini jadi cerito bagurau sambil duduk ngopi di warung. Atau saat ngumpul ngumpul di acara arisan dan semacamnya.
Kata yang tahu. Omicron tak perlu dicemaskan amat. Jinak. Tak ganas. Ndak sekejam pendahulunya, Alfa dan Delta.
Penyebarannya, memang cepat juga. Tapi korban meninggal akibatnya ditaksir, tidak akan tinggi. Sesuai nama plesetannya Ommi/Omak/ibu. Virus sikok ni. Agak ramah. Bak naluri seorang ibu. Punya ‘belaian’ lebih lembut dan rasa iba. Kemungkinan meninggal akibat serangannya. Ditaksir tidak setinggi pendahulunya.
Virus Omicron tak ganas? Semoga. Biar pemerintah, idak perlu membuat peraturan ketat. Membatasi aktivitas warga Seperti ketentuan PPKM. Dan lalok deen Ee…maaf Lockdwon. Seperti tiga tahun belakang. Maksud pemerintah baek. Biar warga aman. Tidak terpapar Covid- 19.
Apa lagi bentar lagi mau puasa. Biar kaum muslim. bebas beribadah. Di surau/langgar dan di masjid-masjid. Termasuk merayakan Idul Fitri, kelak. Jadi, tidak kayak waktu lalu. Sudah dua kali tak bisa mudik. Merayakan lebaran di kampung halaman bersama sanak saudara. Serta ayah jo bundo.
“Maaf yoo..mak?. Awak ndak bisa pulang rayo ko. Uda/abang ndak bisa manggaleh. Jalanpun dismbek urang”, kato Siti Nurjana-wargo Kayu Tanam (Sumbar). “Semoga ayah jo amak. Sehat2 sajo…. Yoooo…maak”, sambungnyo sedih lewat musik saluang
“Yaa Allah..selamatkan kami dari serangan virus Ummicron, ini”, ucap Ustadz kondang Abdul Somad (UAS) dalam sebuah takziahnya, suatu ketika. “Hanya kepada Engkau kami mohon perlindungan”, ucapnya diisambut geeerrr… oleh mereka yang hadir.
Masih kata pihak mengetahui. Gejala Omicron. Sama seperti serangan virus Corona, sebelumnya. Panas badan tinggi, batuk/pilek2, hilang penciuman dan perasa.
Mengatasinya, gampang. Banyak minum aur putih hangat. Menum air putih, air dogan ditambahi jeruk nipis. Isolasi mandiri serta banyak istirahat. Ndak perlu dirawat ke rumah sakit (RS).
Dan jangan lupa, rajin mencuci tangan pakai sabun di air mengalir. Memakai masker. Serta menjaga jarak. Sekalipun Corona jenis Omicron. Dinyatakan tak begitu ganas.
Khusus di Provinsi Jambi. Gubernur Al Haris tetap siaga melakukan antisipasi. Dan mengingatkan masyarakat waspada. Serta jangan remehkan penyebaran Corona jenis Omicron.
Perkembangan Covid-19 di sini. Cenderung menunjukan penaikkan. Sekarang tercatat sudah 119 orang terpapar. Tapi varian mana yang diderita warga. Belun diketahui pasti.
“Varian apa? Nah! Itu belum jelas,” sebut Haris.
Pasalnya, kata gubernur. Butuh alat canggih untuk mengetahui. Tapi, melaksanakan
prokes adalah kunci memutus penularan COVID. “Pemprov Jambi, telah membuka kembali rumah isolasi di Bapelkes provinsi,” ucapnya.
Kecuali itu, gubernur telah menginstruksikan rumah sakit rujukan pasien Covid-19 agar menambah tempat tidur untuk isolasi dan perawatan.
“Tempat tidur yang tersedia saat ini berjumah 713 unit. Masih kurang 412 lagi” jelasnya, tuturnya, Jum’at (14/2/2022)
Idealnya, Privinsi Jambi, mesti punya 4.083 unit tempat tudur melayani pasien covid. Itu berdasar KMK Nomor 14 Tahun 2021. Tentang kewajiban ketersediaan tempat tidur untuk pasien Covid-19.
Kata Al Haris lagi. Rumah sakit dengan kekurangan tempat tidur terbanyak untuk segera memenuhi ketersediaan tempat tidur. Dintaranya Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi,k Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jambi, Rumah Sakit Bratanata, Rumah Sakit H. Hanafie di Kabupaten Bungo, Rumah Sakit H.A. Mayjen Thalib di Kota Sungaipenuh, dan Rumah Sakit Abdul Manap di Kota Jambi.
Rumah sakit lainnya baik milik pemerintah maupun swasta yang berperan sebagai rumah sakit rujukan pasien Covid-19. “Untuk segera melakukan update tempat tidur pasien Covid-19 pada aplikasi rumah sakit online,” sebut Al Haris.
Selain itu, rumah sakit juga diminta melaporkan perkembangan data ketersediaan oksigen dalam setiap harinya melalui aplikasi rumah sakit daring tersebut.
Pemerintah daerah juga diminta untuk mengaktifkan kembali rumah isolasi terpusat (isoter) sebagai antisipasi peningkatan kasus Covid-19.
Selain itu juga diminta melaporkan perkembangan data pasien Covid-19 yang menjalani perawatan di rumah isoter.
“Kabupaten yang belum memiliki rumah isoter untuk segera mencarikan tempat dijadikan rumah isoter,” sebut Al Haris memberitahu.
