Giat “Beselang Nuai dalam Keselarasan Alam Raya Swarnabumi” Upaya Pertahankan Budaya Melayu Jambi
Jambi, Mediator
Prihatin akan menghilangnya Budaya Melayu (adat istiadat/kebiasaan) di beberapa daerah di Provinsi Jambi, kemarin Minggu, 4 Agustus 2024, Rumah Budaya Melayu Jambi mengadakan kegiatan kegiatan “Beselang Nuai dalam Keselarasan Alam Raya Swarnabumi” di lima wilayah Kabupaten di Propinsi Jambi. Sementara untuk dana pembiayaan acara tersebut berasal dari Dana Indonesiana, dimana
Dana Indonesiana tersebut adalah Program Pendana di bawah Dirjen Kebudayaan yang dalam hal ini pembiayaannya untuk kategori “Dokumentasi Karya Pengetahuan Maestro”. Outputnya adalah pembuatan film dokumenter sebagai kekuatan dokumentasi dari sang maestro di lima kabupaten.

Melalui proses yang panjang Rumah Budaya Melayu Jambi berkoordinasi dengan lima maestro di lima kabupaten untuk membuat dokumentasi budaya. Di Kabupaten Kerinci ada “Maestro Tale Nuai” bernama Sutrisman di Kemantan Mudik Kabupaten Kerinci. Di Kabupaten Merangin ada Muhammad Sidin “Maestro Beselang Petang” di Pasar Baru Rantau Panjang di Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin. Di Kabupaten Bungo ada “Maestro Beselang Emping” Awi Nurdin dari Rantau Pandan, Kecamatan Rantau Pandan Kabupaten Bungo. Di Kabupaten Tebo ada “Maestro Makisi Ghodang” bernama M. Yunus dari Desa Kuamang Tujuh Koto Berbatasan dengan Damasraya Sumatera Barat di Kabupaten Tebo.
Terakhir Kabupaten Sarolangun ada “Maestro Tradisi Lisan Biduk Sayak” A. Thalip W dari Desa Jernih Air Hitam dari Kabupaten Sarolangun.
Basis pekerjaan sang Maestro adalah sebagai Petani di lahan pangan namun meraka mampu menuturkan dengan lengkap dan membentuk komunitas Anak Muda yang bisa menampilkan sebuah karya budaya dan bersama Rumah Budaya Melayu Jambi bisa mendokumentasikan untuk pembuatan film dokumenter secara lengkap bersama Rumah Budaya Melayu Jambi.
Direktur Rumah Budaya Melayu Jambi Didik Hariadi mengatakan saat bincang dengan mediator news.com, puncak dari Program tersebut adalah pendokumentasian kebiasan /adat istiadat (budaya,red) sebagai sebuah warisan yang ingin kita jaga dan nantinya jadi karya sang maestro dalam bentuk film dokumenter, dan pembuatan naskah akademik agar bisa di sajikan demi untuk menjaga ketahanan pangan kita diharapkan nantinya. (PA)
