OPINIPENDIDIKAN

Guru Berdaya Saing Global

Oleh : Nelson Sihaloho
Pemerhati Pendidikan Tinggal di Kota Jambi

RASIONAL :

Saat ini maupun di masa depan “guru professional” tidak lagi dipandang sekadar sebagai penyampai materi. Bahkan tuntutan akan “guru profesiobal berdaya saing global” akan menjadi semakin dikedepankan dalam menjalankan tugas profesinya. Contoh kecil serta sekelumit imbas dari akan diberlakukannya guru berdaya saing gobal terlihat dari penempatan jabatan Kepala Satuan Pendidikan.

Fakta dilapangan juga bisa dideteksi bahwa jabatan kepala satuan Pendidikan diisi oleh guru-guru muda. Bahkan guru-guru senior dengan jabatan fungsional guru madya dan utama pun harus memaklumi dan “terpinggirkan” dengan secara alamiah. karena itu, menjadi guru yang lebih profesional berdaya saing global sudah saatnya diberlakukan.

Sistem pengelolaan guru yang Kembali harus terpusat serta dikelola oleh Pusat harus benar-benar menjadi tonggak utama agar pengelolaan guru benar-benar berbasis data berdaya saing global. Globalisasi sebagai jembatan menuju pendidikan yang inklusif, modern yang berakar kuat pada jati diri bangsa guru harus menjadi terdepan dalam meningkatkan mutu dan daya saing global profesionalismenya.

Kata kunci: guru, daya saing global.

Perubahan Aspek Kehidupan

Sebagaimana kita ketahui bahwa globalisasi telah mengubah hampir semua aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali dalam bidang pendidikan. Era yang identic dengan tanpa batas memberikan berbagai peluang luar biasa dalam pertukaran ilmu dan budaya. Selain itu juga menghadirkan tantangan yang kompleks terhadap dunia Pendidikan, terutama di negara Indonesia yang berkembang menuju negara industri baru.

Globalisasi dalam pendidikan merujuk pada proses integrasi pengetahuan, teknologi, dan budaya yang melintasi batas negara. Itulah sebabnya bahwa Pendidikan tidak lagi terbatas secara geografis. Aspek positif globalisasi terhadap dunia Pendidikan adalah , akses terhadap sumber belajar global semakin mudah, peningkatan kualitas kurikulum melalui benchmarking internasional, kemudahan kolaborasi akademik lintas negara serta kesiapan menghadapi tantangan pasar kerja global.

Kendati globalisasi mendorong kemajuan teknologi maupun pertukaran informasi, realitas di banyak negara berkembang menunjukkan bahwa pendidikan masih belum merata. Data World Bank (2021),menunjukkan bahwa terdapat lebih dari 50% anak-anak usia sekolah di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang tidak dapat membaca dan memahami teks sederhana setelah enam tahun bersekolah.

Guru sebagai kunci utama dalam transformasi Pendidikan dalam dimensi global dituntut untuk memiliki kompetensi digital, pedagogi inovatif serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan global. Program pendidikan profesi guru, pelatihan TIK, serta pertukaran pengetahuan internasional sangat penting untuk memperkuat peran guru sebagai agen perubahan.

Guru profesional memiliki standar kompetensi yang jelas. Kompetensi tersebut meliputi kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Keempat aspek ini harus berjalan seimbang agar proses pembelajaran dapat berlangsung efektif. Di era global, standar tersebut berkembang lebih luas. Guru dituntut untuk mampu memanfaatkan teknologi digital dalam pembelajaran, memahami keberagaman budaya, serta memiliki wawasan internasional.

Kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris, menjadi nilai tambah yang signifikan karena membuka akses terhadap sumber belajar global. Selain itu, guru profesional juga memiliki komitmen terhadap pengembangan diri secara berkelanjutan. Mereka tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan formal, melainkan terus mengikuti pelatihan, seminar, maupun kegiatan akademik lainnya.

Kompetensi Global

Untuk mampu bersaing di tingkat global guru dituntut untuk mengembangkan serta meningatkan kompetensi utamanya. Diantaranya literasi digital bahwa, kemampuan berbahasa Inggris, keterampilan berpikir kritis dan kreatif serta kemampuan komunikasi dan kolaborasi

Interaksi yang baik antara guru dan siswa menjadi kunci keberhasilan pembelajaran. Guru juga perlu bekerja sama dengan sesama pendidik, baik dalam lingkup lokal maupun internasional, untuk saling berbagi praktik terbaik. Bukan itu saja, Pemerintah pun telah merumuskan kriteria SDM unggul antara lain: (1) berbudi pekerti luhur, (2) berkarakter kuat, (3) toleran, (4) jujur, (5) berhati Indonesia, (6) berideologi Pancasila, (7) berakhlak mulia, (8) pekerja keras, (9) berdedikasi, dan (10) menguasai keterampilan serta ilmu pengetahuan masa kini dan masa depan.

Sumber daya manusia berkarakter tentu saja menjadi bekal untuk era Indonesia Emas 2045. Indonesia Emas 2045 yang merupakan prediksi yang optimis bahwa usia bangsa ini mencapai 100 tahun. Dimana pada tahun tersebut dihuni oleh penduduk produktif. Akan ada bonus demografi yang tentu saja harus dimanfaatkan agar benar-benar mendorong kemajuan, bukan jebakan (Ansori, 2021).

Karena itu hakikat daya saing global merujuk pada kemampuan suatu negara atau perusahaan untuk bersaing di pasar global. Daya saing mencerminkan kapasitas untuk menghasikan nilai tambah dan berinovasi untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing termasuk inovasi, efesiensi operasional, strategi pemasaran, dan kepuasan pelanggan. Globalisasi mempengaruhi daya saing dengan mengubah cara bisnisberoperasi dan berinteraksi di pasar global. di pasar global. Termasuk daya saing global guru sangat tergantung pada kemampuan untuk beradaptasi dan berinovasi dalam konteks yang terus berubah.

Saat ini paradigma daya saing global telah bergeser. Sebab tidak lagi bergantung pada kekayaan sumber daya alam, melainkan pada kemampuan suatu negara beradaptasi dengan perkembangan teknologi, khususnya AI. Meutya Hafid (2026) dalam TERMINALNEWS.CO , April 19, 2026, menyatakan berdasarkan data World Bank, Indonesia saat ini menempati peringkat ke-41 dari 198 negara dan masuk dalam Kategori A untuk transformasi digital publik yang kuat. Hal ini dinilai semakin memperkuat posisi Indonesia di kancah global. Demikian pula dengan Strategi PGRI: Mencetak Pendidik Kelas Duni dalam drgrant.net tanggal 0 April 2026 telah melakukan Langkah-langkah strategis dalam mendongkrak daya saing guru.

Adapun PGRI melakukan langkah-langkah strategis untuk mendongkrak daya saing guru Indonesia melalui tiga pilar aksi: Pertama, Internasionalisasi Kompetensi melalui SLCC. Melalui Smart Learning and Character Center (SLCC), PGRI memfasilitasi guru untuk terpapar pada tren pendidikan dunia. Pelatihan diarahkan pada penguasaan metode STEM, literasi data, dan penggunaan AI dalam pendidikan, sehingga guru Indonesia memiliki kemahiran yang setara dengan rekan sejawat mereka di negara-negara maju. Kedua, Mendorong Budaya Riset dan Karya Ilmiah,. Daya saing sangat erat kaitannya dengan inovasi. PGRI mendorong guru untuk aktif melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan menulis karya ilmiah. Dengan mempublikasikan inovasi mereka, guru tidak hanya mengajar, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan ilmu pedagogi di tingkat nasional maupun internasional. Ketiga, Kolaborasi Global dan Pertukaran Guru. PGRI aktif menjalin kemitraan dengan organisasi guru dunia (seperti Education International). Melalui jejaring ini, guru-guru anggota PGRI mendapatkan kesempatan untuk bertukar pikiran, mengikuti konferensi internasional, dan melihat langsung bagaimana transformasi pendidikan dijalankan di berbagai negara.

Tugas Berat

Di era digital dan dunia global saat ini, tugas guru semakin berat. Debab dihadapkan pada tantangan kehidupan yang semakin hedonis dan materialistis. Dimana kebahagiaan dan penghargaan atas manusia dihargai sebatas kepemilikan dan kesenangan material.

Saat ini bagi guru-guru yang tidak mau merubah kinerjanya kemajuan teknologi sering dipandang sebagai ancaman. Padahal, AI lebih tepat dilihat sebagai alat bantu. Guru yang mampu memanfaatkan teknologi justru akan memiliki keunggulan lebih. Sesungguhnya tantangan terbesar bukan pada keberadaan AI, melainkan pada kesiapan guru dalam beradaptasi.

Penguasaan teknologi perlu diimbangi dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi inti dari profesi pendidik. Di era digital maka arah baru profesi guru akan semakin berkembang. Bahkan peran guru akan terus berkembang tidak lagi sekadar penyampai materi, tetapi juga fasilitator, pembimbing, dan inspirator. Skill yang tidak bisa digantikan AI menjadi identitas utama profesi ini. Karena itu fokus pendidikan ke depan akan semakin menekankan pada pengembangan soft skills.

Guru akan menjadi aktor utama dalam proses tersebut, karena hanya manusia yang mampu memahami manusia secara utuh. Transformasi pendidikan bukan tentang menggantikan guru, melainkan memperkuat perannya di tengah perubahan zaman.

Guru saat ini dituntut tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu mengelola kelas digital yang interaktif dan efektif. Teknologi memberi kesempatan untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih personal. Perubahan sistem tidak akan berjalan maksimal tanpa kesiapan tenaga pendidik.

Pengembangan kompetensi guru menjadi hal yang sangat penting. Pelatihan berkelanjutan, workshop, serta peningkatan literasi digital menjadi kebutuhan utama. Guru perlu memahami bagaimana merancang pembelajaran yang relevan, bukan hanya menyampaikan materi. Pendekatan yang lebih humanis dan kontekstual akan membantu siswa memahami pelajaran secara lebih mendalam.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwatuntutan guru berdaya saing global saat ini dan dimasa depan akan terus berkembang siring dengan perubahan dan tuntutan zaman.

Tugas berat pengelolaan guru yang akan ditarik kembali ke pusat akan menyadarkan kita bahwa pengelolaan guru memang harus terpusat . Dengan dikelola pusat pemetaan guru akan lebih terpusat dan berbasis data otentik. Selain itu pihak Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah akan lebih mudah melakukan Uji Kompetensi Kenaikan Jabatan (UKKJ) dengan obyektif, transoaran. Termasuk guru pemegang sertifikasi guruprofesional perlu dilakukan uji kompetensi ulang setiap 5 tahun atau 10 tahun. Sebab untuk menjadi guru saat ini adalah guru yang lulus PPG dan lolos seleksi CPNS langsung ditempatkan di sekolah negeri merupakan guru-guru muda. Agar kompetensinya meningkat memang harus dilakukan uji kompetensinya secara berkala atau periodic. Semoga bermafaat. (*).

Rujukan:

  1. Kemendikbudristek. (2022). Profil Pendidikan Indonesia Tahun 2022. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  2. OECD. (2020). Students, Computers and Learning: Making the Connection. Paris: OECD Publishing.
  3. UNESCO. (2020). Global Education Monitoring Report 2020: Inclusion and Education – All Means All.
  4. World Bank. (2021). Learning Poverty: Overview. Retrieved from https://www.worldbank.org/en/topic/education/brief/learning-poverty

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *