Harga Masih Anjlok, Petani Sawit “Gantung Dodos”
Ma.Jambi, Mediator
Dinas Perkebunan Provinsi Jambi merilis harga minyak sawit mentah Crude Palm Oil (CPO) di Jambi periode 5 – 12 Mei 2022 Rp.15.940/kg, Tandan Buah Segar (TBS) Rp. 2.970 per kg dan inti sawit Rp.10.023 per kg. Nyatanya harga ditingkat petani masih anjlok yakni berkisar Rp1.300 – 1.500 per kilogramnya. Petani terpaksa “gantung dodos” agar tidak mengalami kerugian yang lebih besar lagi.
“Harga sawit tiba-tiba saja anjlok menjadi seribuan, padahal kita butuh uang untuk menghadapi hari raya Idul Fitri. Belum lagi kita juga harus bayar upah potong, angkut-angkut dan juga bensin mobil. Semua kan mau lebaran, sementara sawit dak ada hargonyo. Double mumet lah,” kata Muhammad, warga Sekernan, sembari tersenyum kecut.
Untuk menekan kerugian yang lebih besar, Muhammad berserta petani sawit lainnya akhirnya membiarkan buah kelapa sawit rontok di batang alias tidak di panen.
“Kemarin harganya memang sudah mulai naik tapi belum cocok hanya Rp1.500 masih belum memadai, karena hanya habis untuk biaya panen saja. Jadi kami belum lagi panen. Tunggu sampai harga dua ribuan seperti didaerah lain, baru kami mulai panen lagi,” katanya.
Lain halnya dengan Suardi, petani sawit Desa Tarikan, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muarojambi. Ia menyebut, produktifitas buah kelapa sawit saat ini tengah mengalami penurunan drastic akibat musim trek buah.
Biasanya, sambung Suardi, dari satu setengah hektar luas kebun sawit miliknya bisa menghasilkan setidaknya 2 (dua) ton buah setiap kali panen. Namun, sejak masuk masa trek, produksi buah menjadi turun drastis.
“Kalau musim trek buah sekarang, paling bisa panen 5 sampai 6 pikul (enam ratus kilogram-red),” tuturnya.
Sebagai petani swadaya, dirinya hingga saat ini mengaku belum mendapatkan solusi untuk mengatasi trek buah kelapa sawit yang dialami saat ini.
Kenyataan yang sama juga dialami Muhammad Amin, petani warga Desa Seponjen, Kecamatan Kumpeh Ilir. Menurutnya, sejak masuknya masa trek buah petani sawit di desanya mulai merana. “Kalau sudah musim trek, warga disini mulai merana,” ujarnya.
Untuk menambah pendapatan, kata dia menambahkan, warga juga menanam tanaman palawija yang dapat dipanen dalam tempo singkat.
“Warga disini banyak yang menanam jagung. Kalau jagung paling tidak, umur tiga bulan sudah bisa dipanen, sebagian lagi bekerja sebagai karyawan lepas di perusahaan sawit,” ungkapnya.
Menurutnya, berkebun sawit saat ini memang tengah digandrungi oleh masyarakat. Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang menebang tanaman kakao dan duku untuk kemudian diganti dengan tanaman sawit.
Terlebih, beberapa tahun belakangan komoditi sawit tengah booming karena telah digunakan menjadi bahan bakar energy bio diesel.
“Kalau melihat perkembangan sekarang, sawit ini sepertinya dak ada matinya. Hanya kendalanya ketika musim trek, buahnya tidak ada. Dan sekarang, buah trek harganya pun anjlok. Makin merana lah kami,” keluhnya.
Tidak hanya petani, keluhan juga datang dari pemegang Delivery Order (DO) sawit yang mengaku klimpungan karena saat membeli dari petani harganya tinggi namun setelah di setor ke pabrik ternyata harga jual anjlok drastis.
“Belum lagi upah biaya bongkar muat sawit ke mobil, bensin, dan biaya lain untuk menampung sawit. Sekarang kami menunggu informasi pencairan dari pabrik, kalau belum ada info pencairan kita belum berani bayaran takut nambok dan tambah rugi lagi,” katanya.
Meskipun demikian, Ia mengaku tetap menerima sawit dari petani, tentunya dengan harga yang berlaku saat ini. Ia juga menambahkan jika jumlah sawit dari petani jauh berkurang lantaran petani banyak yang masih enggan memanen sawitnya.
“Mendekati lebaran stok jauh berkurang karena petani banyak yang enggan panen, karena takut merugi lebih dalam. Kalau ada petani yang jual kita tetap terima dengan harga sekarang yakni Rp 1500 perkilonya,” ujar pria yang biasa dipanggil Sam.
Untuk diketahui, harga yang ditetapkan pemerintah dari data Dinas Perkebunan Provinsi Jambi harga minyak sawit mentah Crude Palm Oil (CPO) di Jambi periode 5 – 12 Mei 2022 Rp.15.940/kg, Tandan Buah Segar (TBS) Rp. 2.970 per kg dan inti sawit Rp.10.023 per kg.
Untuk usia 3 tahun Rp2.270 per kg, usia 4 tahun Rp.3.156 per kg, usia tanam 5 tahun Rp3.300 per kg, usia 6 tahun Rp3.541 per kilogram dan usia tanam 7 tahun Rp3.528 per kg. Kemudian untuk 6 tahun Rp3.624 per kg, usia tanam 9 tahun Rp3.674 per kg usia 10-12 tahun Rp3.784 per kg, usai 15 – 24 tahun Rp3.668 per kg dan di atas 25 tahun sebesar Rp 3.496 per kg. (dra)
