Harga Sembako Jambi Bergejolak
Cabai Naik, Bawang Turun, Daya Beli Warga Jadi Sorotan
Jambi, Mediator
Harga sejumlah kebutuhan pokok di Kota Jambi kembali menunjukkan dinamika. Di tengah harga beras, gula, minyak goreng dan daging yang relatif stabil, komoditas cabai justru bergerak naik, membuat tekanan terhadap belanja rumah tangga belum sepenuhnya mereda.
Pantauan harga di Pasar Angso Duo melalui Sistem Informasi Harga Sembako Kota Jambi (SIHARKO) pada Senin, 14 September 2026, menunjukkan cabai merah besar dan cabai merah kecil berada di kisaran Rp40.000 per kilogram, dengan kenaikan sekitar 10 persen.
Sementara cabai rawit hijau mencapai Rp44.000 per kilogram, naik sekitar 9,09 persen.
Yang menarik, di tengah kenaikan sejumlah jenis cabai, cabai rawit merah justru turun 12,50 persen menjadi Rp70.000 per kilogram.
Pergerakan yang berbeda ini memperlihatkan bahwa pasar komoditas hortikultura di Kota Jambi masih sangat fluktuatif.
Harga bisa bergerak naik dan turun dalam waktu relatif singkat, bergantung pada ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi.
Beras Masih Relatif Terkendali
Di tengah gejolak cabai, harga beras relatif lebih tenang.
Beras Naruto, Anggur, Belido dan King masing-masing berada di kisaran Rp15.200 per kilogram, sedangkan beras OP Bulog tercatat Rp12.000 per kilogram.
Harga gula pasir lokal juga masih berada di angka Rp18.000 per kilogram.
Untuk kebutuhan protein, daging sapi murni berada di kisaran Rp150.000 per kilogram, sedangkan ayam broiler mencapai Rp45.000 per kilogram.
Minyak goreng juga belum menunjukkan lonjakan berarti. Minyak curah berada sekitar Rp19.000 per kilogram, minyak kemasan premium Rp20.000 per liter dan Minyakita Rp15.700 per liter.
Bawang Justru Turun
Tidak semua komoditas mengalami kenaikan.
Harga bawang merah turun sekitar 7,14 persen menjadi Rp26.000 per kilogram, sementara bawang putih bertahan di kisaran Rp30.000 per kilogram.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga pangan di Kota Jambi tidak terjadi secara merata. Sebagian komoditas masih stabil, sebagian turun, sementara cabai tetap menjadi salah satu komoditas paling sensitif.
Cabai, Barometer Belanja Rumah Tangga
Bagi masyarakat, kenaikan cabai bukan persoalan kecil.
Cabai merupakan bagian dari kebutuhan dapur sehari-hari. Ketika harga cabai naik, pengeluaran rumah tangga ikut terdorong, terutama bagi keluarga dengan pendapatan terbatas serta pelaku usaha kuliner yang membutuhkan cabai dalam jumlah besar.
Situasi ini juga menjadi pengingat bahwa harga pangan bukan hanya soal angka di pasar, tetapi berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat.
Pemerintah daerah perlu memastikan rantai pasok berjalan lancar, mulai dari sentra produksi hingga pasar Kota Jambi.
Pengawasan distribusi juga penting agar kenaikan harga tidak semakin berat di tingkat konsumen.
Pasar Belum Sepenuhnya Tenang
Data hari ini memperlihatkan satu pesan penting: harga sembako Kota Jambi memang belum mengalami gejolak secara menyeluruh, tetapi pasar belum sepenuhnya tenang.
Beras dan kebutuhan pokok strategis relatif terkendali. Namun, pergerakan cabai menunjukkan bahwa masyarakat masih menghadapi risiko kenaikan harga pada komoditas tertentu.
Apalagi harga pangan sangat mudah dipengaruhi oleh pasokan, cuaca, biaya distribusi dan kondisi produksi di daerah pemasok.
Karena itu, stabilnya harga beras tidak otomatis berarti seluruh kebutuhan dapur masyarakat juga aman.
Cabai yang kembali bergerak naik menjadi sinyal bahwa stabilitas pangan di Kota Jambi tetap membutuhkan perhatian serius.
Harga boleh terlihat terkendali. Tetapi bagi masyarakat yang setiap hari berbelanja, beberapa ribu rupiah kenaikan harga tetap berarti. (Pur)
