DAERAHEKONOMI

Inflasi Jambi Capai 3,55 Persen : Tertinggi di Kerinci sebesar 5,11 persen, Terendah di Kota Jambi sebesar 2,96 persen

Jambi, Mediator

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Provinsi Jambi, pada Maret 2026 sebesar 3,55 persen. Inflasi tahunan Provinsi Jambi, lebih tinggi dari rata rata Nasional, Year-on-Year (y-on-y) tercatat sebesar 3,45 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 108,47.

Kepala BPS Provinsi Jambi, Aidil Adha, mengatakan jika dibandingkan dengan inflasi Februari 2026, pada Maret 2026 Provinsi Jambi mengalami inflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,14 persen. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Kerinci sebesar 5,11 persen dengan IHK sebesar 114,35 dan terendah terjadi di Kota Jambi sebesar 2,96 persen dengan IHK sebesar 109,48.

“Inflasi pada Maret 2026, mengindikasikan tekanan harga yang terjadi di pasaran masih dapat dikelola dengan baik, meskipun terdapat potensi kenaikan permintaan terhadap berbagai kebutuhan pokok,” tutur Aidil Adha.

Menurutnya, inflasi yang terkendali menjadi sinyal positif bagi daya beli masyarakat serta efektivitas kebijakan pengendalian harga di daerah.

Secara spasial, BPS mencatat adanya variasi tingkat inflasi antar wilayah di Provinsi Jambi. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Kerinci sebesar 5,11 persen, sementara inflasi terendah tercatat di Kota Jambi sebesar 2,96 persen. Perbedaan ini dipengaruhi oleh faktor distribusi barang, kondisi geografis, serta dinamika pasokan dan permintaan di masing-masing daerah.

Dari sisi kelompok pengeluaran, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi. Komoditas pangan seperti beras, telur ayam ras, dan beberapa jenis sayuran, tetap memberikan kontribusi terhadap kenaikan indeks harga konsumen. Namun demikian, tekanan inflasi tidak terlalu tinggi karena adanya upaya pengendalian pasokan yang cukup efektif di tingkat daerah.

Menariknya, sejumlah komoditas strategis justru menunjukkan pergerakan harga yang relatif stabil. Bahkan, komoditas pangan, seperti cabai merah tercatat mengalami penurunan harga di beberapa wilayah. Kondisi ini berbeda dari pola umum pada periode Ramadhan sebelumnya yang biasanya diikuti oleh kenaikan harga pangan secara signifikan.

Pihaknya menilai keberhasilan menjaga stabilitas inflasi ini tidak terlepas dari peran aktif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang terus memperkuat koordinasi antar instansi. “Upaya tersebut meliputi pengawasan distribusi barang, operasi pasar, serta pemantauan harga secara rutin guna memastikan ketersediaan pasokan tetap terjaga,” ungkapnya.

Meski demikian, Aidil Adha mengingatkan bahwa inflasi secara tahunan masih dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, seperti penyesuaian tarif listrik, fluktuasi harga emas di pasar global, serta dinamika ekonomi nasional dan internasional. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap potensi kenaikan harga tetap diperlukan, terutama pada periode puncak konsumsi masyarakat.

Ke depan, aku Aidil Adha, pihaknya berharap stabilitas inflasi di Provinsi Jambi dapat terus dipertahankan melalui sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat. “Pengendalian inflasi yang efektif tidak hanya penting untuk menjaga daya beli masyarakat, tetapi juga menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan,” tandasnya. (tsa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *