OPINI

Kebenaran yang Takut Diperdebatkan

Oleh : Purwadi (Dewan Redaksi MediatorNews)

“Kebenaran tidak membutuhkan penjaga bersenjata. Ia hanya membutuhkan keberanian untuk diuji.”

Orang yang paling sering mengaku dirinya benar, belum tentu sedang mencari kebenaran. Bisa jadi, ia sedang mencari orang-orang yang tidak berani mengatakan bahwa dirinya salah.

Di situlah masalah bermula.

Ketika kritik dianggap penghinaan, pertanyaan dianggap pembangkangan, dan perbedaan pendapat dianggap ancaman, maka yang sedang dipertahankan bukan lagi kebenaran—melainkan ego, posisi, dan kekuasaan.

Lebih berbahaya lagi ketika kekuasaan atau suara mayoritas dipakai untuk membungkam mereka yang berbeda. Sebab ketika orang sudah takut berbicara, kita tidak lagi hidup dalam ruang pencarian kebenaran. Kita hanya mendengar suara yang paling kuat.

Padahal, kebenaran yang hakiki tidak takut diperdebatkan.

Sejarah Islam memberikan pelajaran penting melalui Perjanjian Hudaibiyah.

Kesepakatan antara Rasulullah SAW dan Quraisy itu pada awalnya terasa berat bagi sebagian sahabat. Bahkan Umar bin Khattab RA mempertanyakan keputusan tersebut. Ada kegelisahan, ada perbedaan pandangan, ada pertanyaan.

Tetapi perbedaan itu tidak diselesaikan dengan membungkam.

Waktu kemudian membuktikan bahwa apa yang tampak seperti kerugian justru menjadi jalan menuju kemenangan. Al-Qur’an menyebutnya sebagai fathan mubina — kemenangan yang nyata.

Di sinilah pelajarannya: kebenaran tidak selalu tampak benar pada pandangan pertama.

Karena itu, orang yang merasa dirinya selalu benar perlu berhati-hati. Ada perbedaan besar antara memegang kebenaran dan merasa memiliki kebenaran.

Kekuasaan tidak membuat seseorang selalu benar.

Mayoritas tidak otomatis benar.

Jabatan tidak membuat manusia bebas dari kesalahan.

Dan banyaknya pengikut bukan ukuran kebenaran.

Yang lebih berbahaya adalah ketika kekuasaan digunakan untuk membuat orang diam. Sebab ketika kritik dibungkam, yang lahir bukan kebenaran, melainkan budaya takut.

Orang akhirnya tidak berkata apa yang benar, tetapi berkata apa yang aman.

Di situlah sebuah organisasi, komunitas, bahkan masyarakat kehilangan kemampuan untuk mengoreksi dirinya sendiri.

Kebenaran yang kokoh seharusnya tidak takut diuji.

Argumentasi yang kuat tidak runtuh hanya karena dipertanyakan. Keputusan yang benar tidak menjadi salah hanya karena dikritik.

Sebaliknya, jika sebuah pendapat hanya bisa bertahan ketika orang lain dilarang membantah, mungkin yang sedang dipertahankan bukan kebenaran, melainkan ego dan kekuasaan.

Hudaibiyah mengajarkan bahwa perbedaan pandangan tidak harus berujung permusuhan. Perdebatan dapat menjadi jalan menuju pemahaman, selama dilakukan dengan ilmu, akal sehat, dan adab.

Maka jangan gunakan kekuasaan untuk membungkam.

Jangan gunakan mayoritas untuk merendahkan.

Dan jangan gunakan keyakinan untuk menutup pintu pertanyaan.

Sebab kebenaran tidak menjadi benar karena kita berkuasa.

Ia menjadi kokoh karena mampu melewati ujian.

Diuji oleh pertanyaan.

Diperiksa oleh fakta.

Dipertanggungjawabkan oleh akal dan hati nurani.

Dan mungkin, salah satu tanda bahwa seseorang benar-benar mencari kebenaran adalah keberaniannya mengatakan:

“Bagaimana jika saya ternyata salah?”

Sebab orang yang takut pada pertanyaan mungkin sedang mempertahankan keyakinannya.

Tetapi orang yang berani menerima pertanyaan sedang mencari kebenaran. (*) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *