“Kisruh” Bank Jambi : Statement Gubernur Masih Sebatas Retorika, Masyarakat Menunggu Jawaban
Jambi, Mediator
Pernyataan Gubernur Jambi, Al Haris, di depan media pada 25 Februari kemarin mengenai “kisruh” yang terjadi di Bank Jambi masih sebatas retorika dan belum menjawab apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun berbagai pihak yang berkompeten, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia, telah turun tangan untuk menangani kasus ini, namun investigasi masih dalam tahap awal.
Bank Jambi mengalami insiden cyber yang menyerang sistem keuangannya dua hari lalu. Gubernur Jambi Al Haris menyatakan bahwa Bank Jambi wajib melaporkan persoalan ini ke pemegang saham agar dapat diambil langkah-langkah yang tepat. “Kami ingin proses transaksi keuangan di lapangan tidak ada masalah dan tidak ada masyarakat yang merasa dirugikan,” kata Al Haris.
Namun, karena insiden cyber ini, Bank Indonesia telah mengambil alih penanganan kasus ini dan memblokir ATM dan mobil banking Bank Jambi sementara waktu. “Audit forensik sedang dilakukan untuk melihat di mana pihak-pihak luar yang melakukan serangan siber dan ke mana arah keuangannya,” katanya lagi.
Beberapa indikasi penyebab terjadinya hal ini masih menjadi spekulasi, namun beberapa kemungkinan yang dapat disebutkan adalah kesalahan sistem, serangan siber, atau bahkan kesalahan manusia. Menurut ahli keamanan siber, Eddy S. Hidayat, serangan siber dapat terjadi karena kelemahan sistem keamanan bank (Kompas, 26 Februari 2026).
Masyarakat diminta untuk tidak khawatir dan menunggu hasil investigasi yang sedang dilakukan. Bank Jambi memiliki kinerja yang cukup baik di tahun 2025, dengan total aset mencapai Rp 330 miliar. Namun, insiden cyber ini tentu saja berdampak pada operasional bank, jelas Gubernur.
Masyarakat masih menunggu jawaban apakah Bank Jambi dan pihak-pihak yang berkompeten dapat mengungkap kebenaran. Waktu akan menjawab.(tim)
