Langit Jambi Mulai Memerah, Kabut Asap Kian Pekat, Warga Diminta Tak Abaikan Bahaya Kesehatan
Jambi, Mediator
Langit Kota Jambi mulai tampak kemerahan pada pagi hari, Selasa (25/8/2026). Bersamaan dengan itu, kabut asap terlihat semakin pekat menyelimuti sejumlah kawasan, membuat kondisi udara terasa berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Fenomena tersebut bukan sekadar persoalan pemandangan. Meningkatnya konsentrasi asap dan partikel di udara dapat menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat, terutama apabila paparan berlangsung dalam waktu lama.
Pemantauan kualitas udara melalui AQI.in menunjukkan bahwa kondisi udara Jambi dalam beberapa waktu terakhir berada pada level yang mengkhawatirkan. Data AQI.in memang bersifat real-time dan dapat berubah mengikuti kondisi cuaca, arah angin, serta konsentrasi polutan di udara.
Sebagai gambaran, laporan pemantauan pada 24 Agustus 2026 juga mencatat AQI Jambi berada di kisaran 187, yang masuk kategori tidak sehat (Unhealthy) dalam skala AQI Amerika Serikat. Pada kondisi tersebut, bukan hanya kelompok sensitif yang perlu waspada, tetapi masyarakat umum juga berpotensi mengalami dampak kesehatan akibat paparan udara tercemar.
Dalam skala AQI, angka 151–200 dikategorikan tidak sehat. Ketika AQI melewati angka 100, kualitas udara mulai memasuki kondisi yang dapat menimbulkan dampak kesehatan, dengan tingkat risiko meningkat seiring kenaikan nilai indeks.
Warga Masih Beraktivitas Seperti Biasa
Ironisnya, di tengah kondisi udara yang memburuk, sebagian warga masih terlihat melakukan aktivitas di luar ruangan tanpa perlindungan yang memadai.
Sebagian masyarakat bahkan menganggap kabut asap hanya sebagai fenomena biasa yang akan hilang ketika hujan turun atau angin bertiup lebih kencang.
Padahal, partikel halus seperti PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan udara tercemar dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak menunggu munculnya gejala seperti batuk, mata perih, tenggorokan terasa kering atau sesak napas untuk mulai melindungi diri.
Kabut Asap Berkaitan dengan Karhutla
Memburuknya kualitas udara Jambi juga terjadi di tengah meningkatnya perhatian pemerintah terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera.
Data yang disampaikan pemerintah pada 24 Agustus 2026 mencatat 425 titik panas di Provinsi Jambi, dari total 2.894 titik panas yang terdeteksi di 10 provinsi di Sumatera. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang memperkuat kekhawatiran terhadap penyebaran asap di wilayah Sumatera.
Kabut asap yang semakin pekat seharusnya menjadi peringatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker yang sesuai ketika harus keluar rumah, serta menjaga kelompok rentan dari paparan asap menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan.
Masyarakat juga diharapkan tidak menganggap enteng perubahan warna langit dan munculnya kabut asap. Ketika kualitas udara memburuk, yang terlihat di langit hanyalah gejalanya, sementara partikel yang tidak terlihat justru dapat menjadi ancaman bagi kesehatan. (Pur)
