KESEHATANOPINIPENDIDIKAN

Membentuk Ketangguhan Kesehatan Mental Remaja Perempuan Generasi Z

Oleh : Rasya Ananda Alwis (G1C124008 Prodi Psikologi, Universitas Jambi)

Generasi Z adalah generasi yang lahir dari pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, di mana tanggal pastinya bervariasi tergantung pada penulis yang dipilih, tetapi yang paling umum adalah 1995–2010. Gen Z dikenal sebagai generasi “digital native” sejati pertama (Lanier, 2017), yang berarti usia generasi z sekarang kisaran dari 13 hingga 28 tahun. Berdasarkan temuan tersebut, generasi z memiliki karakter lebih terbuka dengan perbedaan dan jiwa toleransi mereka sangat tinggi. Dikarenakan Perkembangan teknologi berkembang pesat di era generasi z ini maka tidak mengherankan jika generasi ini sangat dekat dengan teknologi.

Dampaknya, Gen Z terbilang terhubung satu dengan lain melalui media sosial. Tidak hanya itu, gen z juga lebih terbuka dengan perbedaan karena mereka bisa mengakses berbagai informasi dari internet dengan mudah, berbeda dengan generasi sebelumnya yang membutuhkan banyak upaya untuk mengeruk informasi yang ada. Namun, fenomena Gen Z yang terhubung erat dengan media sosial membuat budaya flexing atau pamer kerap terjadi dan berimbas pada pengikut di sosial medianya. Bicara soal kesehatan mental perempuan, apa si kesehatan mental perempuan itu.

Kesehatan mental perempuan adalah isu penting membutuhkan perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah di seluruh dunia. Kesehatan mental yang baik merupakan fondasi bagi kesejahteraan dan kehidupan yang berkualitas bagi perempuan. Namun, perempuan sering kali menghadapi tekanan sosial, stigma, dan tantangan yang unik yang dapat mempengaruhi kesehatan mental mereka. Pentingnya kesehatan mental perempuan tidak bisa diabaikan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kesehatan mental yang buruk dapat berdampak negatif pada perempuan dalam berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk hubungan interpersonal, karier, dan peran sebagai ibu nantinya.

Gangguan mental yang sering terjadi pada perempuan meliputi depresi, kecemasan, dan trauma akibat kekerasan gender. Studi menunjukkan bahwa 20-25% perempuan di dunia mengalami masalah kesehatan mental pada suatu titik dalam hidup mereka (WHO, 2019). Oleh karena itu, memberikan perhatian yang memadai terhadap kesehatan mental perempuan menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Perempuan di seluruh dunia memiliki hak yang setara dalam perihal warga negara. Salah satunya dengan memperoleh penghidupan yang layak, sebagai sarana dalam meningkatkan kualitas hidup untuk mendapatkan kesejahteraan psikologis.Berkembangnya kualitas hidup perempuan diperoleh dari perbaikan kondisi fisik dan mental. Hal ini sejalan dengan pemenuhan hak dan kebutuhan hidupnya dari berbagai bidang pembangunan, terutama pendidikan, kesehatan, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, politik, hukum sosial budaya, dan lingkungan hidup. Besarnya pendapatan berkaitan erat dengan peningkatan kualitas hidup, baik secara langsung maupun tidak.

Remaja perempuan pada generasi Z menghadapi tantangan spesifik seperti peran gender, tekanan sosial media terkait citra tubuh dan pencapaian, hingga perubahan sosial yang cepat. Sebagai contoh, riset di Indonesia menemukan bahwa mahasiswa Generasi Z sangat rentan terhadap dampak negatif norma dan ekspektasi media sosial terhadap kesehatan mental mereka( Izzati, Syifa F. 2023) . Lain lagi, laporan global oleh UNICEF menyebut bahwa ( 4 dari 10 Gen Z masih merasa stigma di sekolah dan tempat kerja terkait berbicara tentang kesehatan mental ) dan ( hanya 55 % Gen Z yang merasa mekanisme koping mereka efektif ). Kemudian masalah lain adalah bahwa dalam studi perkembangan generasi, remaja saat ini menunjukkan gejala kesehatan mental yang lebih tinggi daripada generasi sebelumnya. Semua ini menunjukkan bahwa membentuk ketangguhan bagi remaja perempuan Gen Z sangat penting bagi diri sendiri kalangan Gen Z ( Lim, Y. 2025).

Strategi membentuk ketangguhan kesehatan mental remaja perempuan :

Ada beberapa strategi yang bisa kita terapkan bagi remaja perempuan untuk mendukung Generasi Z membangun ketangguhan kesehatan mental yang kuat.

  1. Pengembangan kesadaran diri (metakognisi) dan adaptasi kognitif. Peran ini menunjukkan bahwa pada remaja, terutama perempuan, kemampuan metakognisi seperti kemampuan menyadari dan mengelola proses berpikir sendiri yang merupakan faktor pelindung terhadap gejala depresi “ Meta cognition significantly protective in females but not in males”. Maka dari itu kita sebagai perempuan dikalangan Gen Z mampu untuk mengenali pola pikir negatif, merumuskan ulang pikiran, dan membangun optimisme dapat memperkuat resiliensi.
  2. Keterhubungan sosial dan dukungan lingkungan resiliensi ini tidak terbentuk hanya pada level individu bisa juga dari dukungan keluarga, teman sebaya, sekolah dan organisasi. Dalam penelitian kualitas hidup remaja, sub skala “caregiver” dan “context” dari resiliensi juga signifikan dalam memprediksi kesehatan mental. Oleh karena itu, lingkungan yang aman, terbuka untuk berbicara, dan bebas stigma akan sangat membantu.
  3. Pengelolaan stres dan mekanisme koping adaptif remaja Gen Z sering menghadapi tekanan besar, termasuk akibat media sosial, perubahan global, dan tuntutan akademik. Laporan UNICEF menyebut bahwa “activities rooted in movement, mindfulness, and social connection … dianggap paling efektif untuk mendukung kesehatan mental”. Program seperti mindfulness, olahraga ringan, peer-support groups, dan pelatihan regulasi emosional dapat dimasukkan ke sekolah atau komunitas.
  4. Pendidikan literasi kesehatan mental dan pengurangan stigma, karena masih banyak generasi Z yang merasa stigma berbicara tentang kesehatan mental, maka pendidikan formal di sekolah ataupun kampus yang membahas kesehatan mental, resiliensi, serta siapa dan ke mana harus meminta bantuan sangat penting. ( Menurut UNICEF ) “4 in 10 Gen Z still feel stigma only half know where to find resources”. Yang dimana kurikulum yang inklusif dan pelatihan guru atau konselor sekolah menjadi bagian dari solusi.
  5. Membangun identitas positif dan berharap masa depan, ketika remaja perempuan harus didorong untuk menemukan nilai, identitas, dan tujuan hidup yang positif yang membantu mereka merasa bahwa mereka punya kendali dan harapan. ( Menurut UNICEF ) menyebut bahwa meskipun Gen Z merasa kewalahan, “60 % tetap berharap dan ingin berkontribusi pada masa depan yang lebih baik”. Harapan dan makna hidup ini menjadi bahan bakar ketangguhanbagi remaja perempuan.

Maka dari itu untuk membentuk ketangguhan kesehatan mental bagi remaja perempuan Generasi Z bukanlah pekerjaan sekali jadi melainkan proses berkelanjutan yang melibatkan individu, keluarga, sekolah, teman sebaya, dan masyarakat. Dengan memperkuat kesadaran diri, menyediakan dukungan sosial, mengajarkan mekanisme koping, dan mengurangi stigma, kita dapat membantu mereka tidak sekadar bertahan, tetapi berkembang dalam menghadapi tekanan zaman. Mengingat data menunjukkan bahwa resiliensi memang terkait erat dengan kesehatan mental yang lebih baik, maka investasi dalam penguatan resiliensi pada remaja perempuan adalah langkah strategis dan moral yang penting. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *