Sosok Abdi Nur, 30 Tahun Lestarikan Kerajinan Resam
Mestong, Mediator
Resam, dengan nama latin Dikranopteris Linearis merupakan kelompok Pakis. Oleh Petani resam dianggap gulma, tumbuhan ini kerap dibuang begitu saja karena dianggap mengganggu produktifitas tanaman. Namun, berbeda dengan Abdi Nur (60), warga RT. 02 Desa Suka Maju, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi. Melalui tangannya, resam dapat diolah menjadi barang bernilai ekonomis. Tidak tanggung tanggung, aktifitas itu telah dilakoninya selama 30 tahun terakhir.
Panas matahari cukup menyengat hari itu, Kamis, 20 Juni 2024 sekira pukul 14:15, Tim Mediator bertandang menyambangi Pak Abdi (biasa disapa-red) disaung usahanya, RT.02 Desa Suka Maju, Kecamatan Mestong. Ketika didatangi, Pak Abdi tengah menganyam resam untuk dijadikan berbagai perlengkapan rumah tangga, seperti bakul nasi, tempat lauk pauk, tempat menaruh beras dll. Menariknya olahan resam juga dapat dijadikan souvenir seperti gelang, kalung, cincin, bros tas dan topi.
“Kami mulai mengolah dan menganyam resam ini mulai tahun 1993 atau sekitar 30 tahunan. Baru sekitar tahun 2002, desa kami ini ditetapkan menjadi sentra anyaman resam oleh pemerintah,” ujar Abdi Nur mengawali perbincangan dengan koran ini.
Dikatakan Nur Abdi, tumbuhan resam ini selanjutnya bisa diolah dan dianyam menjadi bermacam macam perlengkapan rumah tangga dan souvenir. “Resam ini bisa buat kalung, gelang dan cincin, bahkan bros,” tuturnya.
Menurutnya, hasil kerajinan resam banyak diminati oleh para Turis yang datang, baik turis lokal maupun Turis Asing. “Banyak pengunjung yang tertarik, khususnya Turis Mancanegara dan akhirnya membeli kerajinan resam buatan kami ini, untuk dibawa pulang ke Negara Asalnya,” tukasnya.
Kemudian pada tahun 2015, para Pengrajin Anyaman Resam di desa ini bekerja sama dengan Ankso Production salahsatunya Kerjasama untuk menjadikan sentra Pengrajin Anyaman Resam sebagai Wisata Edukasi Alam.
“Melalui kerjasama itu, kami kemudian memberi ruang kepada para pelajar yang ingin bermain sambil belajar, kami beri mereka kesempatan untuk mencintai alamnya. Mereka belajar dari mengambil bahan baku, mengolah hingga belajar menganyam resam,” kisahnya.
Melalui edukasi itu, Nur Abdi memiliki cita- cita yakni membuang stigma dimasyarakat terkait tanaman resam yang sebelumnya merupakan gulma pengganggu menjadi barang bernilai ekonomis tinggi.
“Dengan membudayanya kerajinan resam dikalangan masyarakat, maka harapan kedepannya bisa meningkatkan taraf perekonomian masyarakat dari menjual produk tersebut,” katanya dengan mata berbinar.
Namun, lanjut dia, untuk mewujudkan mimpinya tersebut, tidak terlepas dari pendampingan dan campur tangan dari pemerintah, khususnya terkait bantuan modal usaha. “Kami sebagai pengrajin anyaman resam ini mengharapkan kepada pemerintah agar bisa turut membantu memasarkan produk kerajinanny, syukur – syukur bisa menembus ke kancah internasional, karena Negara – Negara lain masih ada yang bisa menghargai hasil kerajinan kita. Semoga pemerintah juga bisa membantu akses permodalan, seperti bantuan UMKM sebagai modal usaha kepada kami, agar kerajinan ini tetap bisa berkelanjutan,” pungkasnya. (ags/pur)
