Bakal Ketimpo Tahlil ?
Kato Kanti : Tasman
SMAN Titian Teras (TT) Abdurrahman Sayoeti di Pijoan, mendadak ramai menjadi buah bibir masyarakat sekaligus menhiasi laman-laman pemberitaa madia cetak, online maupun televisi. Sayangnya, kali ini bukan soal cerita prestasi maupun kebanggaan bagi anak Jambi, khususnya.
Mulai inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan oleh orang nomor satu di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, Dr H Al Haris, S.Sos, MH. Saat itu beliau mendudukkan, guru, pengawas, dan perwakilan orangtua siswa, mengklarifikasi semua hal yang sampai ke telinganya. Hasilnya perlu dilakukan revitalisi besar-besaran agar harapan mulia Gubernur Jambi yang namanya dilekatkan di depan sekolah itu, Abdurrahman Sayoeti, bisa sejajar dengan sekolah di tanah Jawa.
Belum lagi terlaksanakan rencana revitalisasi, Lagi-lagi Pak Gubernur Al Haris berang bukan kepalang saat dalam sidak selanjutnya, ia menemukan banyak sekali sampah-sampah berserakan, persis di depan kamar asrama para siswa. Bahkan didalam kamur pun juga terlihat, keserawutan. Sama sekali tidak mencerminkan asrama siswa, yang tentunya ada pamong dong …. Ironisnya, kepala berdalih, petugas kebersihannya libur. Lho kok ? Pendidikan tidak melulu soal belajar baca tulis dong, ada etika, etitut dan estetika. Calon generasi pemuda penerus bangsa gitu lo ….
Buntutnya, pencopotan kepala sekolah.
Terbaru, ratusan siswa sekolah unggul bertaraf internasional itu disebutkan terpapar Covid 19. Lho ! Kok bisa? ……. Sakit-senang. Semua memang ada yang ngatur. Sudah kehendak-Nya yang di kuasa. Kita semua. Harus meyakini itu. Cuma yang jadi tanda tanya. Kok bisa sebanyak itu. Sampai ratusan orang. Luar biaso nean lah ? …..
Adakah itu terjadi akibat kekeliruan. Atau (maaf) jika tak boleh disebut suatu kesalahan dalam pelaksanaan Prokes Covid ?. Prokes diabaikan. Atau separoh hati menjalankannya. Baik di kalangan guru dan siswa. Jika betul begitu. Bahayo nean lah.
Bepeluang bersanksi hukum. Melanggar pasal kekarantinaan. Utama sekali terhadap penyelenggara pendidikan di tempat tersebut. Sekolah unggul. Yang mestinya jadi contoh baik oleh sekolah lain di wilayah ini. Yang terjadi justeru kebalikannya.
Kasus Covid di SMA TT, mewabah berpotensi bersanksi hukum? Bisa saja demikian. Polres Muara Jambi. Memang berencana meneliti kasusnya. Pihak Polres akan menyelidiki adanya tindak pidana kekarantinaan. Penyelenggara sekolah SMA Tidak terbuka dalam memberikan informasi awal.
“Kita akan menyelidiki apakah ada tindak pidana ke karantinaannya,” kata Kapolres Muarojambi AKBP Yuyan Priatmaja, yang juga wakil Satgas Covid 19 Kabupaten Muaro Jambi.
Nah! Lokak berabe?
Hingga Jumat malam (18/2/2022) tercatat 241 siswa terpapar cobid-19. Para siswa di isolasi di Bapelkes Pijoan. Sebagian lagi di kampus sendiri.
“Masa kan dirawat di sumber terjadinya wabah”, ujar pengamat masalah Sosial Nasroel Yaseer. “Itu pasti menyalahi prokes covid”, sebut mantan watawan Media Indonesia itu menyesalkan.
Andai penelitian polres, kelak. Benar benar memukan ada bukti. Pelanggaran kekarantinaan. Itu artinya, pihak sekolah, utamanya kepala sekolah. Pasti ada sanksi hukum baginya. Termasuk beberapa orang jajarannya yang ikut bertanggungjawab atas pelaksanaan prokes covid di sekolah tersebut.
Adi Triono yang sebelumnya Pengawas Sekolah pada Disdik Provinsi. Dan belon genap sepekan menjabat kepala SMA TT, bisa saja dilengserkan, seperti pendahulunya, Pahrin Wirnadian S.Pd,M.Si. yang dicopot gegara sampah. Agaknya itu, pasti jugo tak adil. Soalnya Triono baru bee menjabat. Plt pulak.
Namun begitu. Apapun bisa bee terjadi. Sebagai ASN, Pak Adi terang harus patuh perintah atasan. Sesuai janji/sumpah waktu pertama kali masuk PNS dulu. Bersedia ditempatkan di mana saja. Serta nak menjabat apa dan diinstansi mana. Semua tergantung selera sang boss.
Adi Triono, bakal ketimpo tahlil? Pacak nean. Naseb, oohh ….. naseb!!
Tentang SMA Titian Teras
SMA Titian Teras berdiri pada 14 Juli 1994. Lokasi KM 21 jalan lintas kota Jambi-,Muaro Bulian. Pasnya Keluran Pijoaan. Mulanya sekolah biasa (swasta). Dikelola Disdik Provinsi Jambi.
Kemudian dinegerikan menjadi negeri tahun 2012. Namanyapun bertambah. Disematkan nama mantan gubernur. Maka berobalah menjadi SMA TT Abdurrahman Sayoeti.
Sebagai sekolah unggul. Sekolah ini banyak peminat. Selain tamatan SMP kabupaten/kota se provinsi Jambi. Diminati juga masyarakat/siswa daerah tetangga. Seperti Sumbar, Palembang, Pekan Baru dan lainya. Dari pulau Jawa ada juga. Hebat kan !.
Catatan data, sekolah ini, sekarang punya siswa laki-laki 600 orang. Pernah juga 700 orang, beberapa waktu sebelumnya. Cuma akhir-akhir ni agak berkurang. Barang kali pengaruh kehadiran sekolah lain. Bepredikat serupa contohnya MAN Cendekia. Berkampus berseberangan jalan dengan SMA TT.
Kecuali itu, bilang pihak mengetahui. Kualitas sekolah ini. Tak sehebat dulu lagi. Tempo hari, unggul dan hebat, benar lah ado ee. Tapi sejak beberapa waktu belakang. Agak menurun. Akibat tidak se streng dulu lagi. Dalam penerimaan siswa baru misal ee.
Sebelumnya yang bersekolah di situ. Betul-betul calon siswa dari kabupaten/kota. Atau wilayah lain. Yang berprestasi dapat masuk. Akhir akhir ni terjadi pelonggaran. Yang bernilai akademik letoi-letoi bisa juga dierima. Akibat bisa “main ‘mata’. Serta masuk belakang Ditenggarai banyak ketebelece oknum pejabat laku di SMA TT. Waktu penerimaan murid baru. Nah! Nangkene lah rusak nee..
Itu makanya, masih beber Nasroel Yaier. Tidak cuma soal ratusan siswa terpapar covid. Yang perlu diusut. Masalah PSB, yang bisa masuk belakang ini. Juga penting diusut. Biar masyarakat atau colon siswa tidak memandang miring. Terhadap kualitas alumnus sekolah unggulan yang masuk dimasa berikut.
Sepaham nean awak, maa Tasman .
