Cobolah Kayak Bunglon…
Kato Bang Tasman
Belakangan ini masyarakat utamanya emak-emak mengeluhkan ketersediaan minyak goreng/minyak sayur yang semakin sulit ditemukan (langka) diberbagai pasar tradisional maupun modern.
“Aiih…..tambah susah bee. Ndak jadi anak gedang. Idak cari beras,, bee lagi yang masih sulit. Minyak sayur. Lah payah pulak dan langka pulak. Yo..kacau gendum benarlah. Nak jadi apolah negeri kito ni,” kato Ayuk Saodah ngoceh pagi-pagi di sebuah warung sayuran dekat rumahya di bilangan Kelurahan Eka Jaya, Paal Merah, Kota Jambi, Rabu (23/02/2022).
“Ngapo Saodah? Suboh2 kok dah ngoceh,” tegur Wak Leha.
“Aiiiihh!.. Wak ko macam ndak terti bee,” kato ayuk Saoda. “Rego sembako, dah pado naik. Gulo. Semulo telok, naik awal Januari maren. Sekarang lah minyak sayur pulak. Kalu telok masih mending. rego ee naik. Barangnyo, ado. Balambun. Banyak toko jualnyo. Di toko kampung jugo ado,” celoteh Ayuk Saoda.
Migor? Lain hal. Setelah diperintah presiden Pak Jokowi. Hargo minyak ditrunkan rp 14.000/kg. Sebelumnyo sempat melambung 20.000/kg. Kini tu bendo ee tak ado alias angka pulak.
“Apo idak kacau gendum namo ee, Wak,” sebut Saoda lagi bernada geram.
” Apo dak beli migor dari OP (operasi pasar) dilaksanakan Pemerintah?” tanyo Wak Leha.
“Adolah. Tapi, cumo dapat dua kilo.
Kini yooo.. sudah dak katek gi,” keluh Saodah.
Saodah nyatokan senang ado OP. Cumo dia berharap mesti diadokan 1 x seminggu. Jangan kayak yang sudah. Lah, lebih 15 hari lum jugo dilaksanakan. Wak Leha sendapat dengan Saodah. Yang kesehariannya punya UMKM jual lontong dan nase gemuk.
“Sayo setuju maksud, kau tu,” sebutnya sambil ngasih tips rada rada konyol ke Saodah.
“Kalu mau banyak dapat beli migor di kegiatan OP. Cobo belaku kayak binatang Bunglon. Bisa berubah rubah bentuk. Ngelabuii mangsa ee. Hinggap di daun hinjau-jadi hijau. Merah, jadi merah. Koneng berwarna koneng,” ucapnya.
“Datang pertamo ke lokasi OP. Pakek baju biaso bee. Berikut ee pake baju dan celano jeans tambah kacomato. Terakhir pake tutup kepala dan tetap bekaco mato. Jika perlu kaco mato riben bilo perlu.biak susah dikenali. Tapi ini cakap kanti. Sayo dewek belom nyobo eee,” bilang Wak Leha.
Keduo tapingkal ketawo. Idak-idak bee…
Guna mengatasi kelangkaan minyak goreng (migor) Pemprov Jambi sudah melakukan kerjasama dengan Perum Dolog Jambi. Bahkan, sudah berulang kali. melakukan operasi pasar (OP). Setiap kali aksi. Melepas 600-700 liter migor, dengan harga sesuai dengan intruksi pemerintah, yakni seharga Rp 14000/liternya. Kegiatan serupa juga diadakan sampai ke kabupaten.
“Bulog Jambi punya stok migor 9000 liter,” sebut Defrizal, Kakanwi Bulog Jambi kepada awak media.
Negeri banyak sawit? Betul nian lah. Lahan hutan, kebun kelapa dalam/kampung. Sawah dan kebun karet tua. Tak sedikit yang sudah beralih fungsi menjadi kebun sawit. Ada yang dikelola perusahaan besar (PBSN), PTP. serta kerjasama perusaahaan dengan masyarakat setempat, dengan pola KKPA.
Sesuai data. Tanaman sawit Indonesia betengger di angka 15 juta hektar (ha) lebih. Demikian juga dengan produksi terus meningkat. Berjumlah 1,9 juta per tahun. Data sampai September 2021.
Sama seperti Gas dan minyak bumi. Produksi Cruit Palm Oll (CPO) sawit bahkan juga sudah di ekspor ke luar negeri. Disamping mencukupi kebutuhan dalam negeri sendiri.
Menilik angka produksi CPO, agaknya mustahil, kampung kito ni. mengalami kelangkaan komoditii migor kayak sekarang.
Kelerunya? Entahlah.. Cuma yang jelas. Tidak saja migor yang langka. BBM jenis Pertalite, diketahui juga mulai sunglet uji, wong Lahat (Sumse),
Pantauan Mediator. Berapa SPBU di Kota Jambi. Tidak menjual Pertalit lagi lebih kurang sejak Januari kemaren. Sampai kapan ini terjadi? Entahlah. Derita rakyat di negeri kaya sawit dan mueenyak bumi…… (TASMAN)
