DBD “Menyerang” Kota Jambi, 73 Warga Dirawat, 1 Orang Meninggal
Jambi , Mediator
Cuaca ekstrim diprediksi akan terus terjadi hingga awal Maret 2022. Selain ancaman bencana hidrometeorologi, masyarakat juga diminta waspada terhadap Demam Berdarah Dengue (DBD).
“Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) perlu diwaspadai dengan kondisi cuaca yang tidak menentu kadang hujan kadang panas seperti saat ini lebih memungkinkan nyamuk berkembang biak. Penyakit ini mudah menular berasal dari gigitan nyamuk Aides Aigepty dan Aedes Albopictus sudah banyak menyerang warga Kota Jambi,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Jambi Ida Yuliati.
Ia menyebutkan, data Dinas Kesehatan Kota Jambi merilis hingga pertengahan Februari 2022 penderita DBD di Kota Jambi mencapai 73 orang dan 1 orang diantaranya meninggal dunia.
Ida mengaku pihaknya secara rutin membagikan bubuk abate kepada masyarakat. Bahkan pada wilayah yang terdapat kasus DBD juga telah dilakukan fogging. “Kita rutin melakukan abatisasi,” sebut Ida.
Menurut Ida, jika dilihat dari jumlah kasus pada awal 2022 ini kasus DBD di Kota Jambi ada penurunan dari tahun sebelumnya. Meskipun demikian, upaya preventif tetap dilakukan salah satunya dengan menyelenggarakan Jumat bersih yang dilakukan di tingkat kecamatan hingga kelurahan.
Ia juga menghimbau kepada masyarakat jika ada yang menderita demam lebih dari 3 hari diharapkan mendatangi fasilitas kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan.
“Umumnya gejala demam berdarah bersifat ringan dan menyerupai flu, biasanya muncul 4 sampai 7 hari setelah gigitan nyamuk dan dapat berlangsung selama 7 hari. Dan makin parah jika telat ditangani,” katanya.
Ida mengatakan, untuk mengindari penyakit yang belum ada obat maupun vaksinnya ini, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan, melakukan pemberantasan jentik nyamuk dengan 3M Plus (mengubur, menguras dan menutup plus hindarigigitan nyamuk).
“Upaya 3 M plus perlu digalakkan. Yakni meliputi membuang barang bekas, menutup tempat penampungan air dan membersihkan daerah sekitar masing-masing,” ujarnya.
Menurut dia, dalam menghadapi DBD, harus meningkatkan pemantauan jentik di rumah masing-masing. Lantaran jentik ini akan berkembang menjadi nyamuk dewasa dan menjadi faktor penular DBD.
“Selalu memantau jentik, seperti di bak penampungan dan talang air, pot bunga, ban bekas atau juga sampah yang tergenang air. Ditempat ini harusnya dilakukan pengurasan dan disikat sacara rutin agar tidak ada jentik yang berkembang disitu,” katanya.
Namun perlu diketahui bahwa fogging atau penyemprotan disinfektan bukan berarti menjamin keamanan lingkungan rumah dari nyamuk demam berdarah. Fogging semata tidak akan efektif apabila tidak dibarengi dengan menjaga kebersihan lingkungan rumah. Oleh karena itu menjaga kebersihan lingkungan seperti yang sudah disebutkan di atas adalah kunci penting untuk terhindar dari gigitan nyamuk demam berdarah.
Untuk itu, Ia menghimbau kepada orangtua untuk memberikan obat anti nyamuk (repelan) atau memastikan anaknya menggunakan lengan panjang saat beradi diluar rumah atau arena bermain.
“Terpenting masyarakat harus menjaga kebersihan lingkungan jangan sampai nyamuk DBD tumbuh kembang,” katanya.
Suplay Obat Fogging
Sementara itu, Walikota Jambi, Sy Fasha meminta Dinas Kesehatan Kota Jambi untuk mensuplai obat fogging ke setiap kecamatan dan kelurahan. Pasalnya, kecamatan dan kelurahan saat ini kesulitan untuk mendapatkan obat fogging.
“Di kecamatan dan kelurahan ada mesin fogging, tapi saat ini mereka kesulitan mendapatkan obat fogging. Dinkes harus mensuplai obat fogging,” katanya.
Fasha juga kepada aparat desa untuk melaksanakan fogging agar dikoordinasikan dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas di kelurahan masing-masing.
Terpisah, Wakil Walikota Jambi, H Maulana, juga mengatakan, saat ini memang dalam kondisi musim hujan ada potensi terjadi kenaikan kasus DBD.
Maulana mengatakan, Kota Jambi sebenarnya sudah ada Pokja DBD di bawah koordinasi dengan Dinas Kesehatan dengan melibatkan camat dan lurah sebagai kepala wilayah.
“Jika ada kasus positif biasanya akan dilakukan fogging untuk mencegah penularan, tapi fogging juga tak dilakukan secara terus menerus karena akan timbul resisten (kekebalan untuk nyamuk,re). Yang terpenting menerapkan hidup sehat dan bersih ” ucapnya. (ags)
