DAERAHPEMBANGUNANPENDIDIKAN

Guru Se-Jambi Unjuk Kreativitas di Lomba Menulis Feature Museum Perjuangan Rakyat Jambi

Jambi, Mediator

Sebanyak 32 guru dari berbagai penjuru Provinsi Jambi menunjukkan dedikasinya dalam meningkatkan literasi sejarah dengan mengikuti Lomba Literasi Menulis Feature Museum Perjuangan Rakyat Jambi. Acara yang digelar di Pelataran Museum Perjuangan Rakyat Jambi pada Sabtu, 22 November 2025 tersebut, berhasil menciptakan atmosfer kreatif di tengah situs bersejarah.

Lomba ini diselenggarakan sebagai bentuk komitmen museum dalam mendukung gerakan literasi sekaligus memaknai Hari Pahlawan.

Tanti, selaku Pamong Budaya Museum Perjuangan Rakyat Jambi, dalam keterangannya kepada mediatornews.com menegaskan tujuan strategis dari penyelenggaraan lomba ini.

“Lomba menulis feature ini memang kami adakan untuk dalam rangka mengikuti program pemerintah menggerakkan literasi masyarakat terutama untuk guru dan dalam rangka tadinya itu adalah Hari Pahlawan. Pesertanya ada 32 orang guru yang ada dalam Provinsi Jambi,” ujar Tanti.

Lebih lanjut, Tanti menjelaskan, “Tujuan dari lomba ini untuk meningkatkan wawasan dan pemahaman peserta tentang koleksi Museum Perjuangan Rakyat Jambi dan juga masyarakat melalui penulisan literasi ini.”

Pernyataan Tanti diperkuat oleh Wirsa Dwita, yang bertindak sebagai Juri Menulis Feature Koleksi Museum Perjuangan Rakyat Jambi. Wirsa memaparkan visi yang lebih luas di balik kompetisi ini.

“Selain tujuan yang telah disampaikan oleh Ibu Tanti tadi, lomba penulisan ini juga bertujuan bagaimana guru-guru nanti dapat menjadi mitra dalam mensosialisasikan koleksi-koleksi museum perjuangan rakyat Jambi,” jelas Wirsa.

Wirsa menambahkan bahwa koleksi museum memiliki nilai guna yang dapat dikemas ulang. “Dimana koleksi-koleksi ini tidak hanya sekedar dapat dilihat tapi bisa dimanfaatkan dalam bentuk yang lain. Sehingga ketika tulisan-tulisan itu sudah disusun dan mudah-mudahan bisa diantologikan, kemudian karya dari para guru-guru ini dapat dinikmati oleh peserta didik dan juga masyarakat luas.”

Mengenai pemilihan jenis tulisan feature, Wirsa memberikan alasan yang jelas. “Mengapa jenis Feature yang dipilih, panitia ingin peserta menulis dengan gaya bahasa humanis dan enak dibaca.”

Pemilihan format feature ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara benda-benda bersejarah yang diam dengan cerita hidup yang mampu menyentuh hati pembaca, khususnya siswa dan masyarakat umum.

Para peserta terlihat antusias selama mengikuti lomba. Mereka tidak hanya berlomba, tetapi juga diajak untuk memahami lebih dalam setiap koleksi museum yang menjadi objek tulisan. Karya terbaik dari lomba ini rencananya akan dibukukan dalam sebuah antologi, sehingga dapat menjadi bahan ajar alternatif dan bacaan publik yang mengedukasi.

Kegiatan ini dinilai sebagai langkah inovatif untuk menjadikan museum sebagai ruang belajar yang hidup dan memposisikan guru sebagai agen literasi sejarah yang efektif bagi generasi muda Jambi. (Pur)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *