Debit Air Sungai Batanghari Menyusut, BMKG Ungkap Kemarau Jadi Faktor Utama
Jambi, Medaitor
Debit air Sungai Batanghari mengalami penyusutan dalam beberapa waktu terakhir akibat kondisi musim kemarau yang melanda Provinsi Jambi. Penurunan permukaan air terlihat di sejumlah titik sungai, bahkan menyebabkan beberapa bagian dasar sungai mulai terlihat dan hamparan pasir bermunculan.
Fenomena tersebut terlihat di sejumlah wilayah yang dilalui Sungai Batanghari, seperti Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, dan Kabupaten Batang Hari. Penyusutan debit air membuat beberapa kawasan sungai mengalami pendangkalan dan mengubah kondisi permukaan sungai dibandingkan saat debit normal.
Berdasarkan pantauan di lapangan, hamparan pasir mulai muncul di beberapa titik Sungai Batanghari. Kondisi ini menjadi perhatian karena sungai tersebut memiliki peran penting bagi masyarakat Jambi, baik sebagai sumber air, jalur transportasi, maupun pendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Penurunan debit Sungai Batanghari terjadi seiring dengan kondisi cuaca yang lebih kering dalam beberapa bulan terakhir. Minimnya intensitas hujan menyebabkan suplai air ke wilayah aliran sungai mengalami penurunan sehingga volume air sungai ikut berkurang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengingatkan bahwa Provinsi Jambi memasuki periode puncak musim kemarau pada Juli hingga Agustus. Kondisi tersebut menyebabkan peluang hujan mengalami penurunan di sejumlah wilayah.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan bahwa sebagian wilayah Jambi mengalami periode musim kemarau dengan potensi curah hujan rendah.
“Sebagian besar Jambi mengalami puncak musim kemarau di bulan Juli dan Agustus, dan kami memprediksi curah hujan akan menurun drastis di sepuluh hari pertama Agustus, hanya berkisar 20–50 mm.”
BMKG menjelaskan bahwa kondisi curah hujan rendah tersebut dapat meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Jambi. Berkurangnya intensitas hujan juga dapat berdampak terhadap ketersediaan air permukaan, termasuk pada sistem aliran sungai.
Selain berdampak terhadap kondisi lingkungan, penyusutan debit Sungai Batanghari juga berpotensi memengaruhi aktivitas masyarakat. Jalur transportasi sungai menjadi lebih dangkal sehingga kapal dengan muatan tertentu perlu menyesuaikan aktivitas pelayaran.
Meski demikian, kondisi pasokan air bersih untuk masyarakat Kota Jambi masih dalam pemantauan. Pengelola layanan air bersih tetap melakukan pengolahan air baku dari Sungai Batanghari dengan menyesuaikan kondisi debit sungai.
Pemerintah dan masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak lanjutan musim kemarau. Pemantauan kondisi sungai serta pengelolaan penggunaan air menjadi langkah penting untuk menghadapi perubahan kondisi hidrologi di Provinsi Jambi. (tsa)
