DAERAHPERISTIWA

BMKG Sebut Jambi Masuki Fenomena El Nino

Jambi, Mediator

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofifika (BMKG) Stasiun Metrologi Sultan Thaha, Provinsi Jambi, menyebut fenomena El Nino telah melanda Provinsi Jambi. Fenomena El Nino 2026 dipastikan telah aktif dan diprediksi berpotensi mencapai level kuat.

“Fenomena El Nino tahun ini diprediksi memicu kemarau lebih kering dan berdurasi lebih panjang dari tahun sebelumnya,” ujar Kepala BMKG Jambi, Ibnu Sulistyono kepada media ini, kemarin.

Dikatakannya, El Nino itu terjadi ketika suhu dipermukaan laut, tepatnya di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur melampaui dari suhu biasanya, sehingga peningkatan suhu tersebut mengubah arah angin pasat dan memicu kekurangan intensitas curah hujan, khususnya di wilayah Indonesia.

“Suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah, saat ini telah naik 0,5 derajat celcius. Jika sudah melewati batas itu, kita mengatakan sudah masuk dalam kondisi El Nino aktif. Nah, untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat. Jadi kita perlu mengantisipasinya,” ungkapnya.

Puncak Kemarau

Pihaknya memperkirakan musim kemarau masih akan mencapai puncaknya hingga bulan September 2026 mendatang. “Fase musim kemarau sebenarnya sudah berlangsung pada dasaharian ketiga bulan Juni. Kondisi tersebut ditandai dengan menurunnya intensitas curah hujan rata rata diwilayah Provinsi Jambi,” tuturnya.

Ditandai dengan menurunnya intensitas curah hujan dari 100 mm hingga dibawah 50 mililiter perbulan. “Pengamatan dari pos hujan yang tersebar, diwilayah Jambi menunjukkan berkurangnya intensitas curah hujan di beberapa daerah, hingga kurang dari 50 milimeter perbulan,” ungkap dia.

Dikatakannya, pada musim kemarau tidak berarti tidak ada hujan sama sekali. Melainkan, intensitasnya yang sangat berkurang hingga dibawah normal. Sesuai perhitungan, normal curah hujan jika masih berada diatas 100 mm perbulan.

Lebih lanjut dikatakannya, kondisi atmosfer tahun ini perlu menjadi perhatian serius. Meski awal musim kemarau berlangsung bertahap, peluang hujan diperkirakan terus menurun memasuki Agustus hingga September sehingga meningkatkan risiko kekeringan di berbagai daerah.

Kondisi ini, diperparah dengan intensitas penyinaran matahari yang meningkat sehingga suhu pada siang hari terasa lebih menyengat meski suhu udara tidak mengalami kenaikan yang signifikan.

Terkait hal tersebut, pihaknya kembali mengingatkan terhadap ancaman Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), khususnya pada areal lahan yang mudah terbakar.

“Masyarakat dihimbau untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, melakukan pembakaran sampah dengan skala besar, serta tidak membuang puntung rokok sembarangan khususnya pada area tempat sampah maupun areal lahan yang mudah terbakar,” ungkapnya.

Sungai Batanghari Mendangkal

Musim kemarau juga berdampak pada menurunnya debit air Sungai Batanghari. Penurunan permukaan air terlihat di sejumlah titik, bahkan menyebabkan beberapa bagian dasar sungai terlihat dan hamparan pasir bermunculan.

Fenomena tersebut terlihat di sejumlah wilayah yang dilalui Sungai Batanghari, seperti di Kelurahan Buluran Kenali dan Penyengat Rendah, Kota Jambi, Seberang Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, dan Kabupaten Batang Hari. Penyusutan debit air membuat beberapa kawasan sungai mengalami pendangkalan dan mengubah kondisi bantaran dan sebagian permukaan sungai menjadi hamparan luas.

Pantauan media ini, Senin (3/8/2026) di lapangan, hamparan pasir terlihat meluas di beberapa titik Sungai Batanghari. Hamparan luas disepanjang bantaran Sungai Batang Hari itu, kini ditanami tanaman berumur pendek.

“Ini kami tanami jagung Bang. Itu sebagian sudah mulai berbuah,” sebut Bujang, warga Buluran Kenali, kepada media ini, kemarin.

Selain jagung, warga juga memanfaatkan areal bantaran sungai yang mendangkal dengan tanaman labu, mentimun dan pare. “Setiap tahun begitu, kalau sudah musim kemarau, kita mulai menanam lahan kosong ini, dengan tanaman berumur pendek,” ungkapnya.

Senada dengan Bujang, Rohim juga demikian. Dia menyebut, memanfaatkan lahan yang ada untuk mengisi waktu senggang. “Sayang bae, kalau idak ditanami. Jadilah, untuk tambah tambahan kebutuhan dapur rumah. Kalau panen agak banyak, kita jual,” tukasnya.

Tidak saja tanaman sayur mayur, sebagian warga juga ada yang menanam padi. “Alhamdulillah, kalau seperti beberapa tahun kemaren, ada yang sempat panen sebelum aek naek,” ungkapnya.
Beli Air Bersih

Musim kemarau telah berdampak pada berkurangnya sumber air masyarakat. Bahkan, sumur gali milik masyarakat di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muarojambi, sudah banyak yang mengering.

Imbasnya, tidak sedikit warga yang membeli air bersih untuk kebutuhan Mandi Cuci Kakus (MCK) sehari hari. “Kami terpaksa membeli air bersih, karena sumur kami mengering,” keluh Hamidah,warga setempat.

Dikatakannya, air bersih merupakan kebutuhan dasar rumahtangga, sehingga wajib harus selalu tersedia. “Sekali beli satu tedmon ukuran seribu liter, harganya 60 ribu. Itu cukup dipakai tiga hari,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan Rina, tetangga Hamidah. Warga yang bermukim di komplek perumahan ini mengaku air sumur gali yang ada hanya berkedalaman tiga meter. “Kalau sumur gali di komplek perumahan ini sangat rentan mengalami kekeringan,” ujar perempuan bertubuh tambun ini.

Pada Intinya, lanjut dia,datangnya musim kemarau, menambah pengeluaran rumahtangga. “Kalau kemarau sebulan, pengeluaran untuk membeli air saja mencapai 500 ribu perbulan,” ungkapnya.

Keduanya berharap ada pihak yang bisa membantu air bersih bagi masyarakat seperti dirinya yang saat ini membutuhkan. “Harapan kita ada bantuan suplay air bersih, khususnya bagi masyarakat yang memiliki pendapatan rendah seperti kami,” pintanya seraya mengakhiri. (tsa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *