Penghujung Tahun 2022, Harga Bapok Beranjak Naik, Pinang Merosot
Jambi, Mediator
Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2023, harga-harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan secara berangsur, kalau pun turun flaktuatif sifatnya. Sebaliknya harga komoditi unggulan di Provinsi Jambi seperti karet dan pinang justru mengalami penurunan.
Dinas Perkebunan merilis, harga tertinggi kelapa sawit periode 16-22 Desember 2022, kembali mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan harga sawit periode sebelumnya, yakni Rp 2.542,20.
Kondisi serupa juga terjadi pada harga Pinang di Jambi. Di tingkat petani mengalami penurunan drastis. Komoditi yang digadang-gadang menjadi primadona ekspor ini kini hanya dihargai 7-8 ribu perkilonya. Jauh dari harga sebelumnya yang mencapai 11 ribu hingga12 ribu rupiah per kilogram.
Penurunan harga secara signifikan ini, diakui petani pinang, sudah terjadi dalam dua bulan terakhir mengalami penurunan harga cukup signifikan. Para petani pinang pun mengeluh karena pendapatan mereka berkurang.
“Sekarang jauh merosotnya bang, mulai dari 8 ribu sampai 9 ribu per kilogram. Sebenarnya harga sempat membaik 11-12 ribu. Tapi kini turun lagi. Semoga saja tidak terjadi seperti awal tahun kemarin, hanya diharga 3-5 ribu perkilo. Nak makan apa kami,” keluh Samsuddin, petani pinang di Betara, Tanjab Barat.
Petani pun tidak banyak berbuat banyak dan hanya bisa pasrah, sambari menunggu harga kembali membaik. Sejauh dari pengamatan yang ada, harga pinang memang masih bergantung dengan tinggi rendahnya permintaan untuk ekspor.
Petani berharap, harga buah pinang yang menjadi andalan untuk membiayai kehidupan keluarga mereka ini bisa segera membaik, setelah sekian lama mengalami keterpurukan.
“Saya harap seperti itu, karena pekerjaan pinang ini juga banyak prosesnya. jadi berharap pemerintah bisa memperhatikan petani,” katanya.
Madi, salah satu pengepul buah pinang di Kecamatan Muara Sabak Barat, juga mengaku penghasilannya dari Pinang merosot hingga 60 persen.
“Kemarin harga buah pinang kocek itu mencapai 10.000 per kilo namun sekarang hanya Rp 7 ribuan saja. Itu pun harus dikurangi dengan ongkos upah kocek 2.000 per kg. Jika dipaksakan makin merugi, bukannya malah untung tapi buntung. Jadi pinang itu kami simpan dulu menunggu harga naik,”katanya.
Ia menjelaskan, pinang sebagian miliknya dan sebagian mengambil dari petani di Kecamatan Muara Sabak Timur, Mendahara dan lain-lain.
Dia berharap agar pemerintah memperhatikan harga hasil pertanian masyarakat. Sebab mayoritas masyarakat Kabupaten Tanjab Timur bekerja sebagai petani Pinang.
“Kita harap ada solusi dan pemerintah, kasihan kami yang cuma pengepul kecil dan para petani yang hanya mengharapkan kebutuhan sehari-hari dari hasil perkebunan,” harapnya.
Meski ada penurunan harga jual komoditi ekspor itu, namun mereka optimistis komoditi berasal dari berpohon berbuku-buku itu merupakan tanaman utama masyarakat di Provinsi Jambi ini akan tetap diminati karena termasuk komoditi khas di Provinsi Jambi sekaligus telah menembus pasar ekspor.
(adl/dra)
