Tak Hanya Sawit, Harga Pinang pun Ikut Merosot
Permintaan Ekspor Turun
Jambi, Mediator
Sejak akhir tahun 2021, harga Pinang di Jambi mengalami penurunan dari Rp22-24 ribu perkilo menjadi Rp11 – 13 ribu perkilonya dengan kualitas super. Hal ini menyusul menurunnya permintaan Pinang dari negara tujuan ekspor seperti India dan Pakistan.
Manto, pemilik gudang yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso, Sijenjang mengatakan, penurunan harga pinang di Jambi ini sudah berlangsung dari bulan Oktober 2021 yang lalu dan semakin turun. Saat ini harganya hanya berkisar Rp. 13.000,-an perkilogramnya.
Ia menyebutkan, salah satu penyebabnya adalah permintaan dari negara India dan Pakistan berkurang. Padahal Ia sangat berharap kedatangan Presiden Jokowi ke Jambi beberapa bulan yang lalu bisa memperbaiki harga Pinang, namun nyataka hal tersebut tetap tidak mempengaruhi harga Pinang di jambi.
“Kami sangat berharap kedatangn Pak Jokowi saat pelepasan pengiriman Pinang ke India dan Pakistan, bisa mengembalikan minimal menaikkan harga jualnya,” ujarnya.
Manto juga mengungkap jika jumlah Pinang dari petani jauh berkurang lantaran petani banyak yang menahan penjualannya menunggu harga membaik.
“Mendekati lebaran stok jauh berkurang karena petani masih menunggu harga yang pas dulu,” katanya.
Ia menambahkan, Pinang-pinang ini nantinya akan dijual ke perusahaan yang ada di Kota Jambi, dan daerah Petaling Muara Jambi.
“Untuk pengirimannya kita ke India atau Pakistan melalui pelabuhan di Tanjab Barat,” ujarnya.
Manto menyampaikan untuk kenaikan harga sendiri sulit dilakukan karena semua itu tergantung persaingan eksportir. Meskipun begitu, Ia berharap kepada pemerintah daerah dan pemerintah pusat, untuk mencarikan solusi agar harga Pinang bisa kembali normal.
“Harapan kami harganya kembali normal, bisa di atas Rp20 ribu ke atas. Dengan harga segitu petani bisa terbantu dan sejahtera,” ungkapnya.
Samsudin, seorang warga Kabupaten Tanjung Jabung Timur mengakui harga jual pinang kurang bagus sejak di awal tahun ini.
“Kami menaruh harapan ketika harga sawit tiba-tiba anjlok kemarin. Namun apa mau di kata, semua tinggal harapan saja, harga Pinang juga tidak baik-baik saja,” ucapnya.
Ia mengatakan, akibat harga kurang menarik banyak petani mengurangi penjualan. Kondisi itu sudah berlangsung dalam tiga bulan terakhir, selain itu sortir untuk memastikan kualitas juga lebih ketat.
Ia juga menyebutkan, Pinang jenis super seharga Rp13.000, per kilogram, di bawahnya asalan Rp12.000 per kilogram. Kemudian pinang rebus Rp.12.000 per kilogram, klotok asalan Rp12.000 per kilogram.
“Harga Pinang sekarang turun dimana sebelumnya pengepul bisa mengirim pinang berton-ton tiap bulan, kini hanya menunggu waktu yang tepat untuk menjual. Hal itu dilakukan untuk menghindari kerugian akibat penurunan harga,” katanya.
Meski ada penurunan harga jual komoditi ekspor itu, namun mereka optimistis komoditi berasal dari berpohon berbuku-buku itu merupakan tanaman utama masyarakat di Provinsi Jambi ini akan tetap diminati karena termasuk komoditi khas di Provinsi Jambi sekaligus telah menembus pasar ekspor.
Selain itu sistem tanamannya yang mudah, juga dapat dengan mudah disemai. Di lahan pinang biasanya tumpangsari dengan kelapa, dan palawija.
“Bila Pinang tak dijual, maka penghasilan bisa dari kelapa dan tanaman palawija,” katanya menambahkan. (dra)
